Ketika Nafsu Membelah Bangsa, Biarlah Persatuan Kita yang Merekatkannya. “BA²BE BACA BACA BERITANYA”

Artikel Berita Kebangsaan.

Biodata Penulis Nama : Eti kristini /Akar Cahaya.

Afiliasi :

  • Komandan PKRI CADSENA MAKODA Malang JATIM &MAKOSUS Hong Kong.
  • Wartawati & Jurnalis Media POLSUSWASKIANA & Metro Global News.
  • Ketua PJ HUKUM KMTH Periode 2024-2026.
  • Tim Kerja Divisi Advokasi PERMA UTHK 2023-2024.
  • Mahasiswa fakultas Ilmu Hukum UTKH
  • Alummi Capstone College Hong kong -PGTK.
  • Sekertaris Kantor Hukum PBHN PKRI.
  • Anggota Komisi Advokat Indonesia ( KADIA-Jakarta )

Waktu Rilis : Kamis,10 September 2026 / Malam Jum’at Legi. Artikel Berita Kebangsaan Ini Memiliki Hak Cipta ( HKI )

JUDUL:

”Ketika Nafsu Membelah Bangsa, Biarlah Persatuan Kita yang Merekatkannya“

_Artikel ini identik dengan gerakan persatuan bangsa_ ,penulis dengan sengaja mengangkat judul ” Ketika Nafsu Membelah Bangsa Biarlah Persatuan Kita Yang Merekatkannya “ adalah alarm pengingat bagi seluruh elemen bangsa bahwa musuh terbesar sebuah negara sering kali bukan berasal dari luar, melainkan dari ego dan polarisasi di dalam tubuhnya sendiri.

Mengulas bagaimana ambisi politik partisan, narasi kebencian, dan manipulasi identitas yang dirangkum sebagai “nafsu kekuasaan” ,menjadi ancaman nyata bagi integrasi nasional Indonesia. Dengan membandingkan fenomena global dari negara-negara yang runtuh akibat perang saudara, tulisan ini membedah kerapuhan sosiologis sekaligus keistimewaan struktural Indonesia sebagai bangsa multietnis. Sudah sangat mudah di baca banyak yang rekomendasi mitigasi berupa penguatan literasi digital,bahkan ada juga rekayasa institusional yang inklusif, dan konsensus kebudayaan.Intinya, menjaga Indonesia bukan sekadar tugas sejarah, melainkan kontrak sosial yang harus diperbarui secara sadar oleh setiap generasi penerus agar kebal terhadap taktik adu domba modern.

1. Pendahuluan :

Negara bangsa (nation-state) bukanlah sebuah monumen batu yang abadi; ia adalah sebuah tenda besar yang kainnya ditenun dari rasa saling percaya. Ketika Ben Anderson menyebut bangsa sebagai “komunitas terbayang” (imagined communities), ia sedang mengingatkan kita bahwa persatuan itu ada karena kita bersedia mempercayainya bersama-sama. Namun, di era digital saat ini, tenunan itu terus-menerus digunting oleh kutub polarisasi yang tajam.

Saat ini, kita menyaksikan bagaimana politik kawin dengan algoritma media sosial demi melahirkan perpecahan demi perpecahan. Ketika nafsu kekuasaan sekelompok elite mulai membelah masyarakat menjadi kubu-kubu yang saling bermusuhan, benteng terakhir yang kita miliki hanyalah komitmen kolektif untuk kembali merekatkan persatuan. Menolak lupa bahwa mendirikan bangsa ini membutuhkan darah, bukan sekadar riuh tagar di media sosial.

2 .Anatomi Perpecahan Modern

Mengapa sebuah bangsa bisa terbelah? Sosiolog Francis Fukuyama menjelaskan bahwa politik modern telah bergeser dari perjuangan ekonomi-kelas menjadi politik identitas (identity politics). Manusia modern tidak lagi hanya menuntut keadilan material, melainkan pengakuan atas martabat kelompoknya. Sedihnya kebutuhan akan pengakuan ini sering dimanipulasi oleh para demagog pemimpin yang hobi mengobarkan emosi rakyat demi agenda pribadi.

Ketika ruang publik dipenuhi oleh narasi “Kita vs Mereka”, nalar publik menjadi tumpul. Fanatisme buta ini merusak apa yang disebut Robert Putnam sebagai social capital /modal sosial, terutama bridging social capital kemampuan jembatan sosial untuk menghubungkan orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Tanpa adanya jembatan ini, setiap perbedaan pendapat akan langsung dianggap sebagai ancaman eksistensial.

3. _Kasus & Cermin Sejarah Dunia_ :

Kita tidak perlu berimajinasi terlalu jauh tentang bagaimana akhir dari sebuah perpecahan. Sejarah telah mencatatnya dengan tinta darah.

Contoh pertama, Kasus: Polarisasi Pemilu dan “Balkanisasi” Digital

Didalam skala global, kita melihat bagaimana polarisasi politik di Amerika Serikat sempat mengguncang institusi demokrasi mereka pada awal dekade 2020-an /seperti insiden Capitol Hill . Di Indonesia sendiri, residu politik elektoral beberapa tahun ke belakang menunjukkan betapa mudahnya masyarakat bawah diadu domba menggunakan sentimen agama dan etnis, menciptakan luka sosial yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk sembuh.

Contoh kedua: Negara yang Hancur Akibat Perpecahan

Yugoslavia, Ini adalah contoh paling klasik dari fenomena “Balkanisasi”. Negara yang awalnya kuat di bawah Joseph Broz Tito ini hancur berkeping-keping pada awal 1990-an menjadi beberapa negara kecil (Serbia, Kroasia, Bosnia, dll.) setelah nafsu nasionalisme etnis yang sempit membakar wilayah tersebut, berujung pada genosida tragis di Srebrenica.

Suriah dan Libya: Pasca-Gelombang Musim Semi Arab (Arab Spring), ketidakmampuan mengelola perbedaan kelompok dan intervensi kepentingan elite lokal maupun asing mengubah negara yang awalnya makmur ini menjadi medan perang saudara yang tak kunjung usai.

4. _Dikotomi Jiwa: Kerakusan Elite vs Keteguhan Rakyat Jelata :_

Untuk memahami mengapa perpecahan begitu mudah disulut, kita harus berani melihat akar masalahnya secara telanjang: ini adalah masalah degradasi moral. Kelompok elite yang korup dan para pemburu kekuasaan yang gemar membelah bangsa ini sebenarnya hanyalah sekelompok manusia yang terjebak dalam delusi instan. Mereka mengalami penurunan kualitas iman secara drastis dan kelangkaan kesadaran diri (self-awareness). Akibatnya, mereka memandangnya lewat kacamata materi dan dominasi belaka. Bagi mereka, memecah belah masyarakat adalah cara tercepat dan termurah untuk mengamankan aset serta singgasana mereka. Mereka adalah manusia-manusia yang jiwanya kusut, meskipun harta dan jabatannya melimpah.

Pemandangan ini sangat kontras, bahkan bak langit dan bumi, jika kita bersanding dengan para penjaga persatuan yang sesungguhnya: rakyat biasa. Mereka adalah para pedagang pasar yang memeras keringat di bawah terik matahari, para buruh pabrik yang tangannya kasar demi menghidupi keluarga, dan para pekerja mandiri yang mencari nafkah dengan cara-cara yang halal.

Rakyat jelata ini mungkin tidak punya panggung politik atau pengaruh media yang masif. Namun, merekalah manusia yang sebenarnya (the authentic human beings). Di tengah himpitan ekonomi dan kerasnya hidup, mereka menolak untuk menjual harga diri. Mereka tetap utuh sebagai manusia, tidak kehilangan empati, dan tidak pernah berpikir untuk mengadu domba tetangganya demi keuntungan pribadi. Ketika elite sibuk merusak fondasi bangsa dengan ego mereka, rakyat bawah inilah yang dengan sabar dan mandiri terus merajut kembali kain persatuan yang robek lewat gotong royong dan kebaikan sehari-hari,lewat doa dari bibir ke bibir ,namun doa murni setulus hati hanya menginginkan Indonesia dan bangsa ini tetaplah bersatu.

5. _Menyadari Keistimewaan Indonesia:_

Di tengah bayang-bayang kehancuran negara luar, Indonesia sebenarnya adalah sebuah keajaiban sosiologis. Clifford Geertz pernah terpukau oleh bagaimana ribuan pulau, ratusan bahasa, dan beragam agama di Nusantara bisa dipersatukan di bawah satu payung besar bernama Indonesia.

Keistimewaannya Indonesia terletak pada konsep Bhinneka Tunggal Ika. Konsep ini unik karena tidak memaksa orang Jawa menjadi Sunda, atau orang Papua menjadi Minang. Indonesia menerima perbedaan itu sebagai kodrat, lalu merekatkannya dengan bahasa persatuan dan ideologi Pancasila. Pancasila bukanlah ideologi sekular radikal, bukan pula ideologi teokrasi; ia adalah “titik temu” (kalimatun sawa) yang membuat semua orang merasa memiliki rumah yang sama.

6. Lalu darimana harus dimulai, cara Mengatasi Perpecahan..?

Untuk merawat keistimewaan ini dan merekatkan kembali retakan sosial, ada beberapa langkah strategis yang harus diambil,demikian Penulis mengatakan ,mari simak…

Pendidikan Kewargaan Transformatif (Civic Education), Sekolah tidak boleh hanya mengajarkan hafalan Pancasila, tetapi harus melatih siswa berpikir kritis agar mampu memilah informasi dan mengenali hoaks sejak dini.

Regulasi Ruang Digital yang Adil,para penguasa

dan penyedia platform harus memperketat pengawasan terhadap algoritma yang sengaja mempromosikan konten kemarahan (outrage economy) demi klik dan rating.

Ruang Dialog Lintas Iman dan Budaya memang sudah terbit ,itulah terus dikembangkan hingga menjangkau wilayah terpencil.Memperbanyak ruang perjumpaan fisik antarkelompok masyarakat untuk meruntuhkan dinding prasangka (prejudice reduction) agar isu adu domba yang memecahkan persatuan segera dihentikan .

7. Penerus Kemerdekaan Republik Indonesia dari sabang sampai merauke tanpa terkecuali,kalianlah ,yang akan melanjutkan tetap perjalanan negara ini.

anak-anak muda yang akan memegang kemudi bangsa ini. Tetaplah bersiaga, Musuh masa depan tidak lagi datang membawa kapal perang, melainkan menyusup lewat layar ponsel pintar di genggamanmu. Mereka datang dalam bentuk video pendek yang dipotong-potong, narasi kebencian yang dibungkus humor, atau agitasi politik yang memicu amarahmu.

Adu domba modern bekerja dengan cara membuatmu membenci saudaramu sendiri sesama bangsa Indonesia. Jika kamu mendapati dirimu mulai membenci kelompok lain hanya karena perbedaan pilihan politik atau suku, berhentilah sejenak. Ingatlah bahwa Indonesia ini terlalu megah untuk dihancurkan oleh nafsu kekuasaan sesaat. Jaga kewarasanmu, rawat empatimu.

8. Poin-poin terpenting & pesan.

Pada akhirnya, ketika nafsu kekuasaan dan ego kelompok berusaha membelah bangsa ini, persatuan bukanlah sesuatu yang datang secara gratis. Ia adalah kerja keras yang harus diusahakan setiap hari. Indonesia adalah sebuah eksperimen besar keluhuran budi manusia; membuktikan bahwa perbedaan tidak harus berakhir dengan permusuhan. Selama kita masih memiliki tekad untuk saling merekatkan, maka badai politik apa pun tidak akan mampu meruntuhkan rumah besar bernama Indonesia ini.

Mari Cinta negaramu sendiri Indonesia, Hidup dengan cara yang luhur, kaya tak harus korupsi, hebat tak harus jadi pemimpin, karena sesungguhnya anda semua hebat dengan kemandirian, bersahaja dengan kejujuran, mari saling mengingatkan walau lewat coretan pena, ingat dan ingat usia manusia tidak kurang lebih dari 100 tahun mungkin lebih sedikit alangkah merdekanya jika selama menjalani hidup tidak kehilangan kemanusiaannya.

Bela Bangun Jaga.

Sekian.

Bahan Referensi :

  1. .Benedict Anderson, Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (London: Verso, 2006), 5-7.
  2. .Francis Fukuyama, Identity: The Demand for Dignity and the Politics of Resentment (New York: Farrar, Straus and Giroux, 2018), 9-12.
  3. Robert D. Putnam, Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community (New York: Simon & Schuster, 2000), 22-24.
  4. Clifford Geertz, The Interpretation of Cultures (New York: Basic Books, 1973), 255.

Daftar Pustaka :

  • Anderson, Benedict. Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. London: Verso, 2006.
  • Fukuyama, Francis. Identity: The Demand for Dignity and the Politics of Resentment. New York: Farrar, Straus and Giroux, 2018.
  • Geertz, Clifford. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books, 1973.
  • Putnam, Robert D. Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. New York: Simon & Schuster, 2000.

Pewarta : Eti kristini

Filed in: RUPA RUPA

Comments are closed.