7:11 pm - Sunday September 24, 2017

Akibat Ibu Kandung Lengah,Om Om Bejat Cabuli Anak Perempuan Dibawah Umur

Mabes Pers Pkri – Tambusai,Riau – Minggu, 16-04-2017.Seorang pria bernama PM (41thn) warga Desa batang Kumu Kecamatan Tambusai Kabupaten Rokan Hulu diamankan aparat Polsek Tambusai karena diduga pelaku pencabulan seorang anak perempuan sebut saja namanya Bunga di Kecamatan Tambusai Kabupaten Rokan Hulu tadi malam.
Sebagaimana dijelaskan oleh Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Guntur Aryo Tejo,SIK,MM bahwa tadi malam, Sabtu 15 April 2017 sekira pukul 21.00 wib, ibu korban pulang kerumah dari nonton TV di rumah tetangga disamping rumahnya kemudian melihat Bunga tidak ada dirumah. Padahal sebelumnya Bunga ditinggal dalam keadaan tidur dikamar. Ibu korban mencari anaknya tersebut dan sambil memberi tahu tetangga dan ibu korban bersama tetangga mencarinya namun tidak ketemu.
Sekira pukul 21.30 Wib anak nya datang sambil menangis – nangis keluar dari kebun sawit depan rumah kemudian ibu korban memeluk anaknya dan menanyakan “kau dari mana”.  Bunga menjawab “tadi ada om – om masuk kekamar sambil mengendong Bunga dan menutup mulut nya langsung dibawa ke kebun sawit” kata bunga sambil menangis. Kemudian om itu menyuruh bunga membuka celana dan bunga tidak mau kemudian om  tersebut merobek celana Bunga sambil berkata kepada bunga jangan kasih tahu sama mamakmu ya bunga kata si Om tersebut dengan nada Suara Mengancam!!!Ungkapnya Bunga.
“atas kejadian tersebut ibu korban tidak terima dan melaporkan ke Polsek Tambusai untuk diproses Penyidikan lebih lanjut” kata Guntur sambil menutup keterangannya.

Di dalam kitab undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan Undang-undang perlindungan Anak No 23 Th.2002 telah dijelaskan bahwa tindak pidana pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur merupakan sebuah kejahatan kesusilaam yang bagi pelakunya harus diberikan hukuman setimpal.

Pasal 50 ayat 1 KUHP menyatakan bahwa ada empat tujuan penjatuhan hukuman yaitu:

  1. Untuk mencegah terjadinya tindak pidana dengan menegakan norma-norma hokum demi pengayoman masyarakat
  2. Untuk memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadi orang yang lebh baik dan berguna
  3. Untuk menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana (memulihkan keseimbagan dan mendatangkan rasa damai)
  4. Untuk membebaskan rasa bersalah pada terpidana

Adapun dalam KUHP, pasal-pasal yang mengatur tetang hukuman bagi para pelaku pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur terdapat dalam pasal 287, dan 292 KUHP:

  1. Pasal 287 ayat (1) KUHP berbunyi:

“barang siapa bersetubuh dengan seorang perempuan di luar perkawinan, padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun, atau umurnya tidak jelas bahwa ia belum waktunya untuk dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun”.

Tapi apabila perbuatan persetubuhn menimbulkan luka-luka atau kematian maka bagi si pelaku dijatuhkan hukuman penjara lima belas tahun, sebagai mana yang telah ditetapkan dalam pasal 291 KUHP.

  1. “orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesame kelamin, yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya sebelum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama lama tahun”

Sedangkan dalam Undang-undang No.23 Tahun 2002 tentang perlindungan Anak, ada dua pasal yang mengatur tentang ancaman hukuman bagi pelaku pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur yaitu pasal 81 dan 82.

  1. Pasal 81 yang bunyinya:

Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjra paling lama 15 tahun dan paling singkat 3 tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000 dan paling sedikit Rp 60.000.000.

  1. Pasal 82 yang bunyinya:

Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuata cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan paling singkat 3 tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000 dan paling sedikit Rp 60.000.000.

Berdasarkan pasal-pasal diatas, tindak pidana yang dilakukan oleh anak dibawah umur tidak lebih dari 15 tahun penjara. Hukuman tersebut memang hukuman yang mungkin cocok untuk anak dibawah umur karena masa depan mereka masih bisa di lanjutkan setelah masuk penjara. Namun kejahatan yang dilakukan tidak bisa disepelekan Karena masuk dalam tindak kejahatan luar biasa.

Oleh karena itu perlu adanya pengawasan dari setiap orangtua untuk menjaga anak-anak mereka dari hal buruk yang mungkin terjadi. Entah anak mereka jadi pelaku atau korban semuanya harus di awasi dan dilindungi. selamatkan generasi penerus bangsa indonesia dari kerusakan moral yang semakin parah.

Redaktur:Unandra
Filed in: Hukum Kriminal

Comments are closed.