7:11 pm - Sunday September 24, 2017

Amir Syarifuddin, Tokoh RI yang Meninggal Dengan Injil di Tangannya.

Amir Syarifuddin, Tokoh RI yang Meninggal Dengan Injil di Tangannya.

Penerus Perintis – DKI, Jakarta. Salah satu tokoh penting dalam pergerakan kemerdekaan adalah Amir Syarifuddin. Dia termasuk salah satu pilar pendiri bangsa (founding fathers) bersama  bersama Soekarno, Hatta dan Sjahrir. Ketiga tokoh itu telah mendapat pengakuan dan gelar sebagai pahlawan sementara Amir Syarifuddin justru diabaikan dan dibuang. Padahal perjuangannya dalam memeperjuangkan kemerdekaan sangat luar biasa. Buku yang menulis tentang kisahnya sendiri dilarang beredar pada zaman Orde Baru. Sebaliknya buku sejarah di sekolah memberikan catatan hitam tentang pergerakannya. Kisah perjuangannya dalam kemerdekaan tidak pernah dise1but atau disinggung sedikitpun.

Sebelum kemerdekaan, Amir Syarifuddin sudah terlibat dalam  berbagai pergerakan bahwa tanah untuk memperjuangkan kemerdekaan. Tahun 1931, Amir terlibat mendirikan partai Indonesia (Partindo). Amir juga mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) sembari menulis dan menjadi redaktur Poedjangga Baroe. Berjuang untuk pembebasan dari belenggu penjajah, benih-benih perjuangan itu pun makin mekar saat bertemu para tokoh pejuang seperti Mr. Muhammad Yamin.

Tokoh ini boleh dibilang radikal atau kontroversial. Saat perlawanan melawan Jepang sebelum kemerdekaan, ia dengan gigih menolak untuk berkolaborasi dengan Jepang seperti rekan-rekan aktifis yan lain yang berharap Jepang dapat memberikan kemerdekaan kepada Hindia Belanda setelah Belanda di kalahkan. Justru Amir Syarifuddin mengambil langkah dengan menggalang gerakan rahasia menentang Jepang. Dalam hal ini garis Amir yang terbukti benar.

Sayangnya dalam usia muda, 41 tahun karir politik dan perjuangnya berakhir. Setelah Peristiwa Madiun 1948, pemerintahan Hatta menuduh PKI berupaya membentuk negara komunis di Madiun dan menyatakan perang terhadap mereka. Amir Sjarifuddin, sebagai salah seorang tokoh PKI, yang pada saat peristiwa Madiun meletus sedang berada di Yogyakarta dalam rangka kongres Serikat Buruh Kereta Api (SBKA) turut ditangkap beserta beberapa kawannya. Padahal indikasi keterlibatannya di peristiwa Madiun masih samar dan ia dieksekusi tanpa diadili. Dalam buku “Berbagai Fakta dan Kesaksian Sekitar Peristiwa Madiun” , dituliskan bahwa sebenarnya Presiden Soekarno sudah mengeluarkan veto agar Amir Sjarifuddin dan kawan-kawannya tidak ditembak mati, namun militer bertindak lain…..

Amir Syarifuddin sendiri disegani oleh kawan dan lawan-lawannya termasuk Belanda. Sebuah dokumen NEFIS (Netherlands Expeditionary Forces Intelligence Service), instansi rahasia yang dipimpin Van Mook, tertanggal 9 Juni 1947menulis tentang Amir; “ia mempunyai pengaruh besar di kalangan massa dan orang yang tak mengenal kata takut”. Mohammad Yamin menyebutnya dia adalah ahli retorika yang hanya dapat disejajarkan dengan Soekarno.

Spiritulitas Amir sendiri sangat unik dan mengesankan. Dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga Muslim, Amir pada akhirnya menemukan spiritualitas baru bagi dirinya. Perkenalan terhadap kekristenan setidaknya dipengaruhi beberapa hal. Pertama, kakek Amir, Soetan Goenoeng Toea adalah penganut Kristen taat. Kedua, saat menempuh pendidikan di Belanda bersama sepupunya Sutan Gunung Mulia ia tinggal bersama penganut Calvinis taat bernama Dirk Smink. Suatu pilihanyang bersifat personal transenden tetapi bagi Amir sendiri dia tidak main-main dengan pilihannya tersebut. Setelah dia menekuni ajaran Kristen ia memutuskan bertobat dan meminta dibaptis di Indonesia.

Setelah bertobat, Amir pernah mendapatkan kesempatan untuk berkhotbah.  Tiap hari Minggu Amir turut berkhotbah. Khotbahnya selalu menyetuh, dan meneguhkan banyak orang. Penggaliannya terhadap Injil sangat mendalam. Amir adalah orang yang berpengetahuan tinggi, soal politik dan teologia. Bahasanya sederhana dan lugas. Amir sebagai seorang orator yang sangat brilian, yang suka membumbui kata-katanya dengan humor, karenanya ia menjadi sangat populer.

Dalam menempatkan diri sebagai orang Kristen di dalam perjuangan kemerdekaan, Amir memiliki prinsip yang radikal. Salah satu tulisan pendeknya,”Menuju Jemaat Indonesia Asli”, ia menempatkan kontekstualisasi Kekristenan di Indonesia sebagai bagian perjuangan. Dan dalam berbagai kesempatan Amir menyatakan, “seorang Kristen yang baik dapatlah juga sekaligus menjadi seorang nasionalis yang baik”, hal ini suatu petunjuk tentang sintesa keagamaan dan kebangsaan Amir yang utuh.

Begitulah Amir, setia dalam spiritualitas perjuangannya melawan penjajahan dengan strategi-taktik yang variatif. Hingga akhir hayat ketika maut datang melalui peluru bangsanya sendiri, ia tetap setia mengumandangkan Indonesia Raya dengan Injil di tangannya. Ia  membuktikan kesetiaannya dengan spirit antiimperialisme dan antikolonialisme sebagai wujud nasionalisme. Terpenting dari itu, prinsip tersebut secara utuh termanifestasi pada Injil yang tetap ia pegang erat pada akhir hayat.  Pidato D.N. Aidit di dalam sidang DPR, 11 Februari 1957, Aidit mengatakan bahwa: “Amir Sjarifuddin bermarga Harahap dan tidak kalah Kristennya daripada kebanyakan orang Kristen. Ia dieksekusi dengan kitab Injil di tangannya.

Dok : INDPIRONI “Inspirasi Rohani”

Filed in: Investigasi PKRI

Comments are closed.