3:37 pm - Saturday September 21, 7935

Menyalahgunakan Keberadaan SKTM Saat Mendaftar Sekolah Negeri.

PERS PKRI JATENG – SEMARANG. Upaya kualitas dan pemberian akses pendidikan yang lebih luas selalu ada perkembangan ke arah perbaikan. Masing- masing pemerintah daerah mengembangkan kebijakan, bagaimana angka putus sekolah bisa kian menurun, kualitas lembaga pendidikan semakin meningkat, begitu pula sumber daya guru dan siswanya, hingga penerapkan sekolah gratis. Ini merupakan angin segar bagi dinamika dunia pendidikan.
Sesuai jabwal Penerimaan Peserta Didik Baru tingkat SMA yang tercantum dalam https// jateng.siap ppdb.com, pendaftaran online mandiri atau lewat satuan pendidikan telah berakhir Jum’at kemarin lalu ( 6/7). Selanjutnya, pengumuman akan disiarkan online pada hari Senin dan Selasa ( 9-10/7).
Melalui sistem online, kita berharap transparansi penerimaan siswa baru bisa lolos seleksi. Dalam sistem online dicantumkan kriteria siswa priorotas diterima, siswa berprestasi, siswa miskin, siswa luar zona, siswa anak guru, serta siswa domilisi alasan khusus. Jurnal pendaftaran juga bisa dipantau setiap saat.
Lalu, dilanjutkan penerimaan peserta didik tingkat SMP di kota Semarang pada Sabtu- Senin ( 7-9/7) melalui https.//semarangkota.go.id.
Fenomena siswa ” titipan ” melalui jalur khusus atau ” pintu belakang ” di sekolah negeri semoga menjadi ceritera lalu.
Sebagai perbandingan masuk sekolah swasta, apalagi yang berlabel favorit, uang masuknya bisa sampai Rp 10 juta, bahkan lebih. Karenanya bila bukan berasal dari keluarga berada, terpaksa masuk sekolah yang kategori biasa- biasa saja.
Keberadaan sekolah negeri menjadi magnet dari dulu. Alasannya, prestasi anak didik lebih tetlihat dan kebutuhan dana pendidikan lebih terjangkau. Bahkan untuk tingkat SD dan SMP negeri di kota Semarang sudah gratis.
Tak heran bila orang tua berbondong- bondong mengantar anaknya mendaftar dan berharap anakya bisa masuk sekolah negeri favorit. Tak jarang, mereka yang bisa lolos ke SMA negeri favorit itu sebagai sebuah gensi.
Namun, aturan ini ternyata menjadi pembicaraan akses yang lebih luas. Di antaranya penyertaan Surat Keterangan Tidak Mampu ( SKTM), Kartu Indonesia Pintar ( KIP ), atau Kartu Miskin. Melalui program ini, kalimat. ” Orang Miskin Dilarang Sekolah ” sudah saatnya dihapus. Semua berhak mengenyam bangku pendidikan, termasuk mereka yang berasal dari keluarga ekonomi lemah.
Namun, aturan ini ternyata menjadi pembicaraan yang hangat serta viral di media sosial. Pasalnya SKTM menjadi andalan bagi pendaftar karena dinilai bisa mendongkrak poin nilai mereka dalam prioritas proses penerimaan siswa, meski kondisi sebenarnya mereka bukan termasuk golongan miskin. Ada yang menuding banyak pihak yang mendadak miskin ” alias menyalahgunakan keberadaan SKTM.
Terlepas dari prasangka buruk ada baiknya lembaga sekolah terkait melakukan vertifikasi, apakah calon siswa tersebut berasal dari keluarga benar- benar miskin. Bila jalur ” pintu belakang ” sudah ditutup, maka kejujuran masih diperlukan dalam proses penerimaan siswa. ( na)****

Filed in: Investigasi PKRI

Comments are closed.