PKRI INFO – TOBA. Nama Sintong Panjaitan bukan sekadar catatan dalam sejarah militer Indonesia ia adalah simbol ketangguhan, kecerdikan, dan dedikasi seorang prajurit yang ditempa dalam berbagai palagan paling panas di Nusantara. Perjalanan tempurnya adalah kisah tentang keberanian yang dirajut dalam misi-misi berisiko tinggi, sejak Indonesia bergulat dengan pemberontakan hingga stabilisasi wilayah terpencil.
🔥 Rimba Sulawesi: Operasi Kilat 1964–1965
Pertempuran besar pertama Sintong dimulai pada Agustus 1964 ketika ia diterjunkan ke Sulawesi Selatan dan Tenggara. Ia turut dalam Operasi Kilat, sebuah operasi untuk menumpas gerombolan DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar. Daerah penuh hutan dan pegunungan itu menjadi saksi ketangguhan seorang prajurit muda yang tak gentar menghadapi ancaman bersenjata.
🔥 Batujajar: Tempaan Pasukan Komando
Pada Februari–September 1965, Sintong menjalani pendidikan dasar komando di Batujajar, Jawa Barat—pusat lahirnya para pasukan elite.
Ia bahkan dipersiapkan untuk penerjunan di Kuching, Malaysia, namun operasi dibatalkan akibat meletusnya pemberontakan G30S/PKI. Dunia berubah, dan begitu pula arah tugasnya.
🔥 Jakarta & Jawa Tengah: Pemulihan Setelah G30S
Oktober 1965, dalam situasi negara yang kacau, Sintong ditugaskan dalam operasi pemulihan keamanan di Jakarta dan Jawa Tengah. Ia menjadi bagian dari barisan pasukan yang memastikan negara tetap tegak setelah tragedi yang mengguncang republik.
🔥 Papua: Memburu KKB (1967)
Awal Januari 1967, Sintong memimpin tim Kopassus dalam operasi melumpuhkan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua. Medan yang ganas, hutan yang lebat, dan ancaman yang tak terduga justru membuat reputasinya semakin mencuat.
🔥 Manokwari & Papera: Misi Penentuan 1969
Pada 1969, ia dipercaya memimpin Prayudha-3 di Manokwari, sebuah misi strategis untuk memenangkan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera). Penugasan ini menempatkannya pada panggung politik dan militer sekaligus, menunjukkan kepercayaan tinggi yang diberikan kepadanya oleh negara.
Sintong Panjaitan adalah gambaran nyata seorang prajurit yang bekerja dalam senyap, namun kontribusinya menggema sepanjang sejarah.
Pewarta/Roni Tua.
