3:37 pm - Tuesday September 20, 2388

Dialog imajiner

 

Sumber fhoto : google      * Dialog imajiner

Sang Mahapatih Gajah Mada (+)

& Ratu Tribuana Tunggadewi (-)

“PERJALANAN WAKTU”

 

Bumi seantero negeri Majapahit sumringah bermandi cahaya gemerlap laksana mutumanikam. Nusantarapun bersukacita dalam dekap lindungan sumpah PALAPA

sang Mahapatih Gajah Mada…..

Wajah muram sang Mahapatih

disepagi hari itu tak tersembunyi

kan jua olehnya ketika berbincang bersama sang Ratu Tribuana Tungga Dewi…….

Maka bertitahlah sang Dewi Ratu,

 

( – ) : Paman Mada….

Segenab rakyat kita bukankah

saat ini tengah bersukacita me nyambut kebesaran negeri ini Majapahit nan luas, aman damai sekalian mereka tak lagi hidup da lam kegelisahan dan keremangan arah guna tempat Paman labuh kan biduk Nusantara kelak nanti nya. Tetapi, gerangan apa ? Diba lik wajah Paman tampak gelisah yang gundah merasuki sukma…

( + ) : Anakanda Ratu..

Sesungguhnyalah, waktu tak per nah berbohong pada sepanjang  perjalanan nya, pun yang telah be riring jalan dengan kehidupan kita manusia, hamba telah semakin renta dan mimpi mimpi tentang keabadian Nusantara sepertinya kan pupus tertelan keserakahan perjalanan waktu….

( – ) :  Paman Mada,Angin bertiup dari lembah pegunungan berbatu sepoi sejuk, air dihulu sungai ke ruh dikala deras hujan turun dan perlahan sang surya kan sirna di cumbu malam gelap, adakah itu pula lintasan waktu yang Paman fikir ? Bukankah itu senantiasa ada dalam pergantian mimpi…? Seperti yang pernah Paman wejangkan manakala jiwa dilanda kegundahan ……

( + ) : Yaaaa…. ..Andaipun Seribu windu kan  ada menghampir kita, dan kita adalah bahagian dari pa danya itu pun tak kan ada banyak berarti…Paman faham terlalu su lit bagi kita meng hindar dari pili han fikir dan rentang perjalanan waktu…..dan kian tergambar jelas MAJAPAHIT akan  tenggelam   oleh gemuruh hiruk pikuk kesera kahan, kesombongan, ambisi , khayalan dan ke semuanya yang mengabaikan ke santunan tata krama diantara mereka sesama dan merekapun akan bersukacita dengan alam fikir masing masing mereka sendiri sendiri, maka adalah sang “HIDUP” yang pula ter abaikan karenanya..

( – ) : Paman Mada…, dapatkah ? kemudian daripadanya, rakyatku membiarkan daku cuma terse nyum kelak dialam yang lain disa na, menyaksikan hal sedemikian itu ? Tidak kah ? itu sama berarti kita telah menghampar jenang yang salah rasa dipermukaan pinggan pinggan mereka,atau pu la telah terlalu banyak manis ma du kehidupan yang kita berikan ke mudian menghantarkan harapan semu merasuki fikirnya…?

( + ) : Anakanda Ratu…

Kelak, disaat nanti seperti itulah saja yang dapat diperbuat sele bihnya hanya lah hasrat dan hara pan dan dapat pula ada diantara nya kesia sian…Itulah perjalanan ombak dilaut lepas tinggi mengge

lombang merindukan pasir pantai

dan pada akhirnya saling berpelu kan saling melepas rindu… itulah juga bahagian perjalanan waktu…

…………………………………………………….

 

Dan langit Majapahit pun mengge layut mendung, para ksatria ma buk kemenangan sesaat …. para brahmana semedi melantunkan puji pujian pada sang Mahadewa para kaum jelata pun tenggelam dalam, dalam remang remang perjalanan hidup yang kehilangan arah dan Sang Mahapatih bering sut berbalik pergi setelah berucap salam pada sang Dewi Ratu…. dan sang Ratu lekat menatap langkah langkah kakinya yang tampak mulai limbung….renta, dan sang Ratu, pula berharap le wat bisik hatinya, akan ada ba nyak GAJAHMADA lainnya di neg ri nya…sekarang dan pula dimasa

yang akan mendatang….

 

* i.adhitya

2 Syawal 1439 H.

sumber foto geogle

 

 

 

 

Filed in: Kultur Budaya, Pendidikan

Comments are closed.