3:42 pm - Friday October 19, 2018

“Asytaqfirullah”

sumber foto : geogle

” Asytaqfirullah….”

(Kalau tidak ada berada, tidak kan tempoa bersarang rendah)

KORUPTOR yang berlanjut denganx suatu perbuatan KORUPSI, diamati dan kemudian direnungi lewat fikir “ku”…… Sesungguhnyalah peseni tidakkan pernah kekurangan inspirasi ketika petualangan nuraninya mengalir, mencair kemudian mengkristal dalam bentuk suatu karya berkesenian, terlepas dari nilai bobot seni itu sendiri tentu saja.Tak ada yang dapat mengingkari itu.Bukankah Sang Khalik telah menciptakan  banyak keindahan alam semesta guna terabadikan lewat alam fikirnya. Namun demikian, juga tak salahnya bila peristiwa korupsi oleh koruptor yang diperbuat dalam bulan suci penuh berkah dan penuh ampunan yakni bulan suci Ramadhan…. kemudian karenanya peseni tersentuh juga hati nuraninya. Sungguh suatu prilaku keterlaluan dan benar diluar nalar akal sehat manusia yang mengaku beragama.

Disepertiga akhir Ramadhan, telah ditandai beriringan tertangkap tangan dua orang pemimpin daerah dibelahan bumi Pertiwi terkasih ini oleh KPK. Siapapun anak negeri kita ini, terlalu faham bila berurusan langsung dengan KPK, masaalahnya pastilah korupsi. Sungguh miris, menyayat, melukai hati menyaksikan (walau hanya melalui media televisi) kedua orang pimpinan daerah yang tertangkap tangan itu masih sempat sempatnya tersenyum tidak sedikitpun tergambar risau diwajahnya bahkan seperti sudah lenyap rasa malu disekujur tubuhnya terlebih lagi begitu terlalu teganya melambaikan salam tiga jarinya….ketika digiring Polisi.

Seorang peseni dan pemikir bijak pernah merangkai kata menjadi kalimat indah berupa peribahasa, “Kalau tidak ada berada tidak kan tempoa (burung) bersarang rendah”. Tentunya peseni yang pemikir bijak itu telah melakukan pengamatan mendalam tentang burung tempoa yang bersarang rendah sebab burung tempoa berkebiasaan membuat sarang selalu ditempat yang tinggi hal mana insting pun naluri yang menuntunnya pada keselamatan dan kelangsungan hidup berketurunannya. Lantas bila ada tempoa bersarang rendah, hal demikian itu tidak berarti karena kebodohannya yang mengabaikan naluri ataupun insting yang berkaitan dengan keselamatannya, malainkan ada terdapat kemungkinan yang didapatnya berupa perlindungan lebih oleh khewan khewan lainnya yang sudah barang tentu mempunyai pula kelebihan tentang suatu perlindungan, salah satu diantaranya khewan “ular” berbisa yang manusia sekalipun ada rasa takut dan ngeri pada ular itu…

Sayangnya, peseni yang pemikir bijak itu tidak melanjutkan telaahnya gerangan apa? yang jadi penyebab?  kok mau maunya sang ular berbisa melindungi burung tempoa… sepertinya ada keengganan atau ketidak tahuan kenapa peseni pemikir bijak itu tidak melanjutkan telaahnya tentang itu, sebab kita semua pasti faham hanya ular bodoh yang tidak suka telur burung,anak burung,induk juga bapak burung sekalipun sebagai santapan lezat yang sudah berada tepat didepan rahangnya….

Aakkhhh…sudahlah ! barangkali ada baiknya tidak berpanjang panjang kata menelusur lebih jauh lagi, kita sepakati saja nanti timbul kekhawatiran akan ditemukan kesimpulan yang melebar kemana mana…misalnya suatu kesimpulan ekstrim yang kira kiranya,  bakhwasanya telah terjadi kesepakatan antara tempoa dan ular…, tempoa bersedia mengorbankan sebagian telur atau anaknya sebagai upeti kepada ular dan sang ular akan pasang badan menjaga sarang burung tempoa. Ha ha ha ha ha….mudah mudahan tidaklah demikian adanya tetapi kemudian bisa mungkin demikian adanya.

Pernah selintas terbersit melintas dalam fikir saya, apa tidak di iyakan saja bakhwa para koruptor terlebih koruptor salam tiga jari dihukum berat, hukuman mati ?, seumur hidup ?, dimiskinkan ?, dipakaikan baju badut dipersidangan ?, atau entah hukuman dunia lainnya..? Lantas karenanya, bisa selesaikah penuntasan perkorupsian dinegeri ini ? Atau mengadopsi penindakan hukum seperti hukum di negeri lainnya ? Akh tidak….!!!  tentang apapun kehebatan negeri lain…akan kuikhlaskan sepanjang zaman rasa cinta yang dalam serta kebanggaan pada negeriku sendiri, Merah putih ku, Indonesia ku.

Tentang koruptor dan korupsi, tergolong kelas hiu kah ia, pun kelas teri kah ia… kekonyolan kalian telah melampaui batas batas kemanusiaan, atas nama Tuhan kalian pernah bersumpah tidak akan berkhianat pada tumpah darah mu, negerimu, itu kalian ucapkan sebelum kalian duduki kursi berputar dibalik meja besar dalam ruangan besar….Ke Esaan Tuhan tidak lagi kalian jadikan kekhawatiran, rasa takut pada kelak akhir zaman pun demikian, padahal adakah banyak yang akan dapat kalian bawa ketika kelak pada saat PANGGILANNYA…selain catatan kebaikan ataupun keburukan buah atas perbuatan kalian sendiri… tentang pengadilan duniawi ? Adakah pengadilan yang melebihi keadilan pengadilan Tuhan kelak disana nanti ?

Perkenan aku, cuma ingin katakan itu.

Ramadhan 1439 H.

i.adhitya

Filed in: Kultur Budaya, Pendidikan

Comments are closed.