4:09 am - Thursday October 24, 2019

Kultur Budaya I.

Oleh Imam Soejioto

Filosofi “burung tempoa”
Adalalah sejenis “khewan” yang bisa berkicau “merdu” diketinggian pepohonan, sekaligus membuat sarangnya.
Seperti kata pepatah, kalau tidak ada berada tidak tempoa bersarang rendah.
Tetapi kemudian, belum ada ceritanya si Tempoa berkicau “merdu” di sarangnya yg rendah itu.
Tidakkah itu berarti si Tempoa bermain main dengan “ada apa apanya” . Bagaimana kalau disepakati saja bakhwa si Tempoa juga tergolong makhluk yang suka berlindung dibalik sesuatu, mungkin bisa juga digolongkan si Pengecut….. (?)
Buktinya, siul merdunya terdengar hanya bila berada diketinggian atau bersarang ditempat yang rendah hanya kalau ada yang melindungi dibawah sarangnya, bisa jadi “ular jahat” tanpa ia sadari bisa pula disaat tertentu ular akan memangsanya……..
Lantas bagaimana dengan (misal), ada burung Pekoar (ahli berkoar) yang baru beberapa hari saja memasuki sangkar…. Kemudian koarnya beda lagi tidak merdu tetapi cenderung minta dikasihani minta penangguhan persangkaran dengan alasan sakit, asam urat, asam lambung, asam uhuk2 barangkali…
Apa iya ya…. Jenis burung ini adalah juga si Tempoa?
Trrruussss….. Berteriaklah sang NAGA BONAR….,
“apa kata dunia…..? ”
…… Sudah kubilang kau Udin! Jangan kau pergi bertempur, masih juga kau pergi… sekarang mati kau !
Dimakan cacing kau……
Kayaknya ada benarnya Naga Bonar….
Apa kata dunia……….
Salam.

Filed in: Kultur Budaya

Comments are closed.