3:14 pm - Friday December 18, 4899

MURAHNYA nilai sebuah NYAWA ( JIKA BENAR ) DITOLAK KARENA KURANG UANG DP, BAYI DEBORA MENINGGAL DI RS MITRA KELUARGA

MEDIA PKRI DKI, JAKARTA.”Inanng…bertahan kau nang…bertahan kau nang…jangan pergi nang..jangan tinggalkan mamak nang”, jerit pilu Ibu Henny Silalahi sambil menggoyang-goyangkan tubuh kaku putrinya Debora di tempat tidur IGD RS Mitra Keluarga Kalideres.

Ia terus berteriak menangis histeris tidak terima anaknya telah pergi meninggalkannya secepat itu. Di depannya sang suami terdiam menahan ledakan amarah. Matanya memerah berkaca-kaca. Laki-laki berperawakan sedang itu akhirnya ikut menangis. Tidak sanggup menahan air mata yang coba ditahannya.

Minggu dini hari, 3 September 2017, sekitar pukul 02.30 WIB, Bayi Debora sesak nafas. Nafasnya tersengal satu-satu. Sebelumnya Debora batuk-batuk. Batuknya berdahak. Ibu Henny segera membangunkan suaminya Rudianto Simanjorang. Mereka memutuskan membawa bayinya segera ke rumah sakit Mitra Keluarga Kalideres.

Pukul 03.30 WIB, motor dihidupkan. Pagi buta mereka menembus dinginnya malam membawa bayi mungil Debora yang tampak pucat tertidur pulas. Diboncengan Bu Henny melihat tiba-tiba bayi Debora sesak nafas. “Cepatan pa…”, bisik Bu Henny ke telinga suaminya. Suaminya memacu kencang motornya. Tidak begitu jauh jarak dari rumah mereka hanya 3 km jaraknya. Hanya sekitar 10 menit mereka sudah sampai di RS Mitra Keluarga Kalideres.

Sesampai di rumah sakit sekitar pukul 03.40 Wib, Debora langsung di bawa ke IGD. Ada dokter jaga di sana. Dokter Iren. Tindakan pertolongan pertama diberikan. Bayi Debora di cek suhu tubuhnya. Lalu diberikan penguapan untuk mengencerkan dahaknya. Sambil dilakukan pemeriksaan, ayah Debora Rudianto diminta mengurus administrasi pasien.

Pukul 04.10 WIB, kedua orang tua Debora dipanggil dokter Iren. Hasil diagnosa dokter Iren mengatakan si bayi Debora harus segera dibawa ke ruang PICU. Kondisinya memburuk. Pasien harus dimasukkan segera ke ruang PICU untuk memberikan pertolongan maksimal. Kedua orang tuanya mengangguk cemas. Terbayang wajah bayi mungil Debora yang mulai kesulitan bernafas. Dokter Iren menyarankan segera mengurus ke bagian administrasi.

“Maaf Pak ..bapak harus membayar uang muka sebesar Rp.19.800.000,- agar anak Bapak bisa masuk PICU”, ujar Ifa petugas administrasi datar.

“Kami ada BPJS mba…tolonglah masukkan ke PICU. Selamatkan dulu anak kami”, mohon Pak Rudianto sambil mengatupkan telapak tangannya di dada memohon-mohon welas asih petugas.

“Maaf Pak..rumah sakit ini belum ada kerjasama dengan BPJS. Mohon selesaikan uang muka dulu agar anak bapak bisa segera dimasukkan ke ruang PICU”, ujar Tina petugas administrasi tanpa peduli sambil menyorongkan sehelai kertas berisi daftar harga uang muka pelayanan perawatan. Di kertas daftar harga itu tertera angka Rp. 19.800.000,- untuk pelayanan PICU.

Kedua orang tua Debora tampak bingung. Mereka tidak membawa uang sepeserpun. Dompet dan tas mereka tertinggal di rumah karena buru-buru membawa anaknya ke rumah sakit.

“Pa segera pulang Pa..ambil uang kita”, ujar Bu Henny sambil bercucuran air mata meminta suaminya segera mengambil uang balik ke rumah.

Rudianto, ayah bayi Debora segera berlari kecil menuju parkiran motor. Keringat mengucur dari dahinya. Ia memeluk istrinya sambil menguatkan agar istrinya menjaga putri mereka di ruang IGD. Ia segera menghidupkan motornya. Mengebut membelah sunyinya jalan Peta Barat dan Selatan dengan degub jantung berdetak kencang.

Pukul 04.30 Wib ayah Debora kembali ke RS Mitra Keluarga Kalideres. Ia langsung berlari ke salah satu ATM di pojok rumah sakit itu. Ia menarik empat kali di ATM BCA. Uangnya di rekening hanya tertinggal 5 juta lebih.

“Ini mbak lima juta rupiah. Barusan saya tarik dari ATM. Mohonlah dimasukkan anakku di ruang PICU. Saya berjanji siang nanti akan mencari kekurangannya”, mohon ayah Debora sambil memelas.

Uang dihitung Mbak Tina petugas administrasi. Lima juta rupiah.
“Tapi maaf pak ini masih kurang dari uang muka PICU”, jawab mbak Tina datar.

Ayah Debora memohon sekali lagi. Hanya itu uang miliknya. Ia tidak tahu harus mencari kemana lagi karena masih subuh. Keluarganya yang lain masih tidur. Ia berjanji siang hari akan membayar kekurangannya yang penting bayinya segera dimasukkan ke PICU.

“Saya harus telepon atasan saya dulu pak”, balas Tina.

Ayah Debora segera bergegas ke ruang IGD menjenguk anaknya. Terlihat istrinya Henny menangis sesunggukkan. “Bagaimana pa..sudah papa berikan uang muka PICU?”, tanya istrinya sambil kebingungan. Suaminya terdiam sesaat. Ia hanya menjawab lirih “uang kita hanya ada lima juta ma”.

Sepuluh menit kemudian petugas administrasi memanggil kedua orang tua Debora.

“Maaf pak atasan saya tidak memberi izin anak bapak dimasukkan ke PICU sebelum bapak menyelesaikan uang muka. Ini saya kembalikan uang lima jutanya”, ujar petugas administrasi itu tanpa empati.

Sontak tangis pecah. Ayah ibu Debora hanya bisa menangis. Bu Henny menangis sesunggukkan. “Tolonglah mbak…anak saya kritis. Dia kedinginan. Perlu segera masuk PICU. Mohonlah mbak..mohon..”, ucap suami Bu Henny mengiba-iba sambil membungkukkan badannya dengan kedua tangan mengatup.

Tak ada jawaban. Petugas berwajah dingin itu hanya menjawab datar. “Ini aturan rumah sakit Pak..silahkan bayar uang muka sesuai daftar harga PICU”.

Sontak langit terasa gelap. Kedua orang tua Debora ini lunglai. Kemana lagi harus mencari uang? Waktu terus berpacu. Bayinya semakin sekarat. Wajahnya pucat. Nafasnya tersengal karena batuk dahak dan tubuhnya kedinginan.

Bu Henny mengontak teman-temannya. Ia mencoba menghubungi teman-temannya untuk meminta bantuan. Ia menelpon Iyoh teman baiknya agar mengecek ke RS Koja. Sulit menelpon rumah sakit itu untuk bertanya ruang PICU. Iyoh dan suaminya segera bergegas ke RS Koja mencari ruang PICU.

Dokter Iren menemui kedua orang tua Debora. “Bagaimana bu sudah diselesaikan di administrasi?”, tanya dokter Iren.
“Uang kami tidak cukup bu. Hanya lima juta. Kami mohon agar bisa dimasukkan di PICU nanti siangan kekurangannya akan kami penuhi”, balas Bu Debora memelas.

Dokter Iren tidak membantu apa-apa. Ia hanya menyarankan memberi surat rujukan agar dibawa ke rumah sakit yang ada kerjasama BPJSnya. Kedua orang tua Debora hanya bisa pasrah. Mereka bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Debora harus dievakuasi ke rumah sakit yang ada BPJSnya agar bisa menerima bayi Debora.

Pukul 06.00 WIB, kondisi Debora terus menurun. Ia masih diruang IGD. Bu Henny mencoba menghubungi koleganya. Pukul 06.17 WIB Bu Henny memposting kegalauannya di akun fesbuknya.

“URGENT PLEASE, TOLONG BANTU CARI RS SEKITARAN JAKARTA BARAT YG ADA RUANG PICU YG KOSONG. PLEASE TELP KE 082168852971. PLEASE”.

Beberapa temannya merespon. Seorang temannya di Tangerang mencoba membantu. RS Tangerang ada PICU. Bisa segera dibawa ke sana segera.

Bu Henny mencoba mengecek beberapa rumah sakit di Jakarta yang masih ada ruang PICU. Ia mengecek RS Koja. Ia meminta sahabatnya Iyoh mengecek ke RS Koja.

Waktu terus berjalan. Matahari merambat naik. Bayi Debora terus berjuang bertahan hidup tanpa bantuan medis yang optimal. Ia dibiarkan kedinginan tanpa inkubator. Sementara kedua orang tuanya terus berusaha mencari rumah sakit yang punya ruang PICU.

Lamat-lamat dari samping ranjang Bu Henny terus komat-kamit mengucap doa. “Bapa jangan ambil lagi anakku. Bapa…dulu kakaknya Karunia sudah KAU ambil Tuhan. Jangan lagi KAU ambil Debora dariku Bapa”, lirih Bu Henny sambil mengelap air matanya yang jatuh bercucuran dengan punggung tangannya.

“Bertahan kau inang..mama masih berjuang mencari rumah sakit untukmu. Bertahan ya inang..dulu kau lahir prematur kau bisa bertahan inang. Sekarang juga pasti bisa inang “, isaknya sesunggukkan di samping ranjang Debora sambil mengelus wajah bayinya yang semakin pucat dingin.

Pukul 09.00 WIB, Dokter Irfan menemui kedua orang tua Debora. Dokter pengganti Dokter Iren ini memberi penjelasan kondisi bayi Iren. Entah apa yang dikatakannya. Kedua orang tua Debora sudah tidak bisa lagi mencerna apa penjelasan dokter Irfan. Yang mereka tahu bayi Debora harus dibawa ke ruang PICU agar bisa diselamatkan.

Pukul 09.39 WIB, Bu Henny menyodorkan handphonenya ke dokter Irfan. Iyoh temannya berhasil menemui dokter di RS Koja. Bayi Debora akan dievakuasi secepatnya ke RS Koja. Dokter di Koja ingin mendengar pandangan dokter Irfan atas kondisi pasien. Kedua dokter itu berbicara melalui telepon Bu Henny. Entah apa yang dipercakapkan mereka. Bu Henny terus komat kamit merapal doa menanti muzizat kesembuhan anaknya sambil memperhatikan dokter Irfan.

Pukul 10.00 WIB, perawat memanggil kedua orang tua Debora. Mereka mengabarkan kondisi bayi Debora memburuk. Mereka memberikan tindakan CPR karena jantung bayi Debora berhenti. Bu Henny memegang tangan anaknya. Dingin sekali. Kedua mata bayi Debora hanya nampak putihnya. Nyawa Debora sudah tidak bisa diselamatkan.

Sontak Bu Debora menjerit histeris.

“Adekkkk…adekkk…bangun dek…Inang..Inang..bangunnn. Jangan tinggalkan mamak nak…maafkan mamak Inang..mamak sedang berjuang membawamu ke PICU…inangg…”, jerit pilu Bu Debora di samping tubuh kaku bayi Debora.

Ia terus mengguncang tubuh Debora. Mencoba membangunkannya. Bu Henny terus menjerit. Ia menangis kencang. Matanya sembab. Ia terus menjerit tidak terima bayi mungilnya mati di IGD.

Ayah Debora terguncang. Dadanya bergetar. Ia menjerit memeluk bayi mungilnya. Kedua orang tua Debora tidak menyangka bayinya meninggal dunia hanya karena uang muka yang diminta rumah sakit tidak bisa mereka cukupi.

Jumat pagi tadi, 8 September, sekitar pukul 09.00 WIB, saya mendengar semua kisah pilu itu di Balai Kota. Malam sebelumnya Bu Henny menghubungi saya via inbox. Ia salah satu follower saya. Saya tidak mengenalnya sama sekali. Ia meminta saya menolongnya. Saya tidak tahu apa yang bisa saya tolong.

Saya tahu melawan rumah sakit yang punya uang dan kekuasaan itu tidak mudah. Jaringan mereka kuat. Uang milik mereka tidak berseri. Terbayang bagaimana kisah pasien Prita yang menghebohkan itu akhirnya malah Prita yang dilaporkan pihak rumah sakit yang dikritiknya.

Tapi saya harus datang. Saya hanya tahu mendengarkan tangis orang yang sedang berduka setidaknya bisa mengobati dukanya. Saya tidak tahu bagaimana harus menolong mereka.

Di kantin Balai Kota, saya mendengar cerita pilu ini. Usai mendengar cerita orang tua Debora, saya mengajak mereka ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres.

Sekitar pukul 13.30 WIB, kami tiba di RS Mitra Keluarga. Di sana saya bertemu dengan petugas informasi bernama Mbak Indri. Darinya saya dapat info bahwa RS Mitra Keluarga belum bekerja sama dengan BPJS meskipun selama ini sudah disosialisasikan ke publik bahwa RS Mitra Keluarga bahwa pada Bulan September 2017 sudah ikut BPJS.

Saya juga bertemu dengan Mbak Wulan petugas administrasi RS Mitra Keluarga. Saya menanyakan biaya PICU. Ia menyodorkan sehelai kertas putih dilapis plastik. Di situ tertera daftar harga pelayanan dan perawatan. Saya melihat untuk PICU tertulis RP.19.800.000,-.

Usai dari RS Mitra Keluarga, saya diajak kedua orang tua Debora berjiarah ke makam anaknya di TPU Tegal Alur. Kami naik taxi on line.

Matahari begitu pongah siang itu. Terik sekali. Pemakaman nampak sunyi. Dua puluh langkah dari makam Debora, tangis bu Henny pecah.

“Dekkk…mamak datang lagi liat kamu dekk. Mereka jahattt..jahattt..mereka jahatt dek..mereka biarkan dedek kedinginan”, ujar Bu Henny sesunggukkan dengan air mata deras membasahi pipinya. Di depannya sang suami mencoba tegar. Ia hanya menaburi kembang sambil menahan air matanya tumpah.

“Dekk…mamak janji setiap minggu akan liat dedek ya. Maafkan mamak ya dek…tak ada lagi kawan mamak malam-malam. Tak ada lagi yang mamak gendong malam-malam. Mereka jahat dekk..mereka jahat”, tangis Bu Henny terus berulang.

Saya tak bisa menahan air mata. Ini kali ke dua saya menangis sejak tiga hari lalu berjiarah ke makam Emak di TPU Pondok Ranggoon.

Kehilangan orang tua itu sangat menyedihkan. Tapi duka kita bisa cepat pulih karena kita masih punya masa depan. Ada anak kita. Anak kita masa depan yang bisa bisa kita lihat. Tapi bagaimana ketika kita kehilangan anak? Masa depan apa yang hendak kita rancang? Apalagi kalau kematiannya karena kejam dan sadisnya rumah sakit yang memaksa uang muka baru dilayani?

Lamat-lamat kuping saya mendengar tangis Bu Henny seperti suara lirih bayi mungil Debora yang masih berumur 4 bulan. Saya mendengar suara lirih dari kuburnya. “Mama apa salahku ma?”.

Selamat jalan anakku Debora cantik..bisikkan kepada malaikat di surga betapa kami menyayangimu.

Salam penuh dukaku
Birgaldo Sinaga

Filed in: Hukum Kriminal

Comments are closed.