3:42 am - Thursday October 18, 2018

Pendam IV Diponegoro Tanggapi Soal Taksi Bandara A.Yani Semarang.

PERS PKRI JATENG – SEMARANG, Penerangan Kodam IV/ Diponegoro menanggapi kabar mengenai aksi premanisme yang dialami seorang penumpang di Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang. Sebelumnya, viral pengakuan warga bernama Nathalie yang mendapat perlakuan tak mengenakan saat turun di bandara.

Kapendam IV/ Diponegoro, Letkol Arh Zaenudin menjelaskan, Bandara Ahmad Yani sudah ditingkatkan kelasnya menjadi bandara internasional. Bandara tersebut diresmikan oleh Presiden Joko Widodo sejak tanggal 7 Juni 2018. Penataan dan pembangunan bandara semata- mata hanya untuk memberikan pelayanan kepada publik dalam hal transportasi udara domestik maupun mancanegara.
Dalam hal transportasi di bandara menurutnya, tidak sesederhana seperti di ruang publik lainnya. Hiruk pikuk aktivitas penumpang domestik dan luar negeri menuntut penataan fasilitas dan prosedur yang dapat menjamin keamanan, keselamatan penumpang atau masyarakat sekitar, serta otoritas bandara itu sendiri.
Nathalie menuliskan kejadian itu di status Facebook, pada hari Jumat silam ( 13/7), kemudian dibagikan ulang oleh netizen sehingga menjadi viral di media sosial. Dalam unggahannya, Nathaline menyatakan, taksi Blue Bird yang ditumpanginya diberhentikan sekitar 10-20 meter dari gate bandara oleh seseorang. Orang tersebut membentak- bentak dia dan sopir taksi karena tidak menggunakan taksi bandara.
Zaenudin mengatakan, sebagian masyarakat kaget oleh viralnya postingan Nathaline. Beragam tanggapan pun bermunculan, bukan hanya dari masyarakat, melainkan juga pejabat publik. Padahal dalam postingannya tidak menyertakan dokumentasi foto atau video yang dapat mendukung keaslian maupun keabsahan berita.
Menurut Zaenudin, pengelolaan jasa pelayanan di Bandara Ahmad Yani telah merujuk pada Permenhub Nomor 56 Tahun 2015, yang menyatakan, harus dilakukan melalui perjanjian kerja sama yang saling menguntungkan antara pengelola bandara udara dengan perusahaan jasa terkait. Ini perlu digarisbawahi karena akan menjadi perbatasan hak pilih seseorang di bandara untuk menentukan sarana transportasi selama berada di areal itu tidaklah sebebas seperti mencari kendaraan di ruang publik lainnya.
Jika dilihat dari lama operasi bandara, menurut Zaenudin, baru ini terdapat komplain dari masyarakat. Mengklaim, pelayanan yang dilakukan oleh taxi Atlas, Kosti, Astria, dan Puri Kencana, yang merupakan mitra Koperasi- S16 Lanumad Ahmad Yani tidak kalah dengan Blue Bird, yang dipersoalkan dalam unggahan Nathalie.
Dia mengatakan, pembatasan pilihan pada dasarnya tidak bertentangan dengan prinsip demokrasi Indonesia yang menjunjung tinggi prinsip hak asasi manusia.
Kita harus yakin bahwa dengan tidak adanya monopoli taksi di Bandara Ahmad Yani akan membangkitkan persaingan pelayanan yang sehat, sebagaimana ditetapkan dalam Permenhub Tahun 2015. Hal itu, kata Zaenudin, tentu bukan atas pertimbangan aspek bisnis semata, melainkan untuk menjamin keamanan dan keselamatan baik bagi konsumen maupun manajemen. Tidak ingin, bandara yang demikian megah kemudian menjadi karut marut karena lalu lalang berbagai alternatif taksi bandara.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah, Satriyo Hidayat, mengingatkan pengelola Bandara Ahmad Yani hanya diberi waktu satu minggu untuk melakukan perubahan yang signifikan. Jika tidak ada perubahan. Kementerian Perhubungan akan turun tangan menyelesaikan permasalahan dan mengambil alih pengelolaan Bandara Ahmad Yani Semarang.
RED –( na )****.
Filed in: Uncategorized

Comments are closed.