6:47 pm - Monday December 17, 2018

Penutupan Lokalisasi Sunan Kuning Semarang. Pemerintah Siapkan Upaya Yang Terbaik.86

PKRI INVESTGASI JATENG – SEMARANG. Kabar dari pemerintah kota semarang akan rencana penutupan lokalisasi dan resosialisasi Argorejo yang biasa disebut lokalisasi Sunan Kuning (SK) kian santer terdengar. dan membuat penghuni kelabakan bahkan ada yang akan menjual.

Hal itu membuat para penghuni lokalisasi terbesar di kota Semarang merasa resah. Penutupan Sunan Kuning sering terdengar tidak ada terlaksana dalam pelaksanaan penutupan. Ada apa ya ?
Penutupan Sunan Kuning bukanlah solusi untuk mengatasi persoalan penyakit masyarakat di kawasan itu. Selain itu, ada banyak orang yang sehari- hari mengandalkan penghidupan dari bisnis hiburan di Sunan Kuning.

Hal itu diungkapan oleh satu diantaranya Ella(36) seorang pelaku usaha di lokalisasi Sunan Kuning Semarang. Ia juga mengatakan pihaknya sudah lama mendengar adanya rencana penutupan lokalisasi oleh Pemkot Semarang. Belakangan itu, kabar penutupan lokalisasi tersebut kembali berhembus. Berharap rencana itu dikaji ulang mengingat banyak orang yang akan terdampak akibat rencana tersebut.

Pemkot Semarang bersama pengelola Lokalisasi Sunan Kuning secara rutin memberikan berbagai pelatihan kepada para penghuni. Hanya saja, hal itu dirasa tidak bisa menjadi solusi jika penutupan tetap dilakukan.

Pengelola Lokalisasi Sunan Kuning, Suwandi menjelaskan, Lokalisasi Sunan Kuning diibaratkan adalah tong sampah masyarakat. Namun jika dikelola dengan baik, maka tong sampah itu akan tetap bersih dan sampahnya tidak akan bertebaran di luar.

Dijelaskan oleh Suwandi, kalau pemerintah berencana menutup karena untuk menghilangkan penyakit masyarakat malah justru prostitusi di jalanan akan marak. Selain akan menimbulkan persoalan baru, penutupan lokalisasi lanjut dia juga harus memanusiakan para penghuninya. Pemerintah harus memikirkan nasib ratusan orang yang menggantungkan hidupnya di lokalisasi itu.

Selama ini lanjut Suwandi, pihaknya sudah membekali para anak asuh dengan sejumlah pelatihan keterampilan. Namun itu saja tidak cukup untuk masa depan mereka. Di tempat ini ada 486 anak- anak asuh dan 117 ibu asuh. Belum lagi para karyawan, tukang parkir, penjual makanan dan lain sebagainya. Artinya ada banyak perut yang harus dipikirkan jika penutupan akan dilaksanakan.
Harus ada modal usaha, untuk itu harus ada dana pendukung yang diberikan kepada semua orang di lokalisasi ini jika memang penutupan akan dilakukan. (na)****.

Filed in: PKRI News

Comments are closed.