6:26 am - Wednesday December 19, 2018

Persidangan Mantan Kepala Kantor BPN Kota Semarang.

RADAR PKRI JATENG – SEMARANG. Persidangan Mantan Kepala Kantor BPN Kota Semaran.
Kursi pesakitan terdakwa mantan Kepala Kantor BPN Kota Semarang Priyono, yang menerima gratifikasi terkait dengan hadiah uang pengurusan hak atas tanah mencapai Rp 8,6 miliar dari pihak ketiga, diketahui sebagian mengalir untuk digunakan Karoke.

Terdakwa, yang juga pernah menjabat Kepala Subdirektorat Pencegahan dan Pembatalan Wilayah Kementerian Agraria dan Tata Ruang ( ATR/ Badan Pertanahan Nasional (BPN) diketahui menggunakan sejumlah uang tersebut untuk karoke bersama sejumlah relasi dan pejabat di BPN. Karoke itu dilakukan di tempat hiburan malam di Hotel Borobudur dan Karoke Manhatan.

Hal itu terungkap dalam pemeriksaan saksi Cinta Eri Asmara alias Rieke, di Pengadilan Tipikor Semarang, baru- baru ini.
Cinta juga mengakui sering karoke bersama Priyono di Jakarta. Bahkan, sekali karoke, Priyono bisa bersama 4 sampai 14 teman- temannya. Atas karokenya itu, dikatakan saksi, terdakwa membayar dengan uang dari dua rekening yang dikuasainya.
Cinta Eri Asmara merupakan teman wanita terdakwa saat karoke, yang sebelumnya sempat tidak hadir di persidangan karena sedang ke Eropa itu mengatakan, bahwa terkait dua rekening berisi total sebesar Rp 3,6 miliar yang dikuasai, yakni rekening BCA atas nama dirinya dan Eko Budi Raharjo ( PNS BPN ).
Terkait rekening, ia mengaku dikuasai oleh atas permintaan Priyono. Uang Rp 3,6 miliar itu diketahui merupakan setoran dari sejumlah pihak yang mengurus sertifikat tanahnya di BPN melalui Priyono.
Dikatakan pula oleh Cinta Eri Asmara dihadapan majelis hakim yang diketuai oleh Antonius Widijantono, sejak tahun 2009 sampai tahun 2012, terdakwa dan teman- temannya, bisa lebih dari 50 kali ke tempat karoke, sebulan bisa 3 kali. Sekali bayar karoke minimal sebesar Rp 10 juta. Maksimal, kalau sama plus- plusnya bisa capai sebesar Rp 60 juta sampai Rp 70 juta.
Terkait dua rekening berisi Rp 3,6 miliar itu, diketahui juga digunakan saksi Cinta untuk sejumlah kepentingannya. Diantaranya, pembayaran asuransi, pembayaran mobil Mazda CX 5 Sport Rp 280 juta, perumahan sejuta arisan Rp 394 juta.
Rekening itu dikuasai oleh terdakwa Priyono untuk menampung setoran uang dari pengurus sertifikat. Penghasilan saya sebulan bisa Rp 30 juta sampai Rp 50 juta karena saya juga punya bisnis.
Secara terpisah. Isteri terdakwa Priyono, Nanik Riani saat diperiksa dipersidangan beberkan sejumlah keterangan terkait pembelian rumah dan mobil. Ia menyampaikan, bahwa rumah di Yogjakarta, awalnya dibeli dalam keadaan tanah kosong karena berupa kebun, dengan luas sekitar 350- an meter persegi.
Tanah tersebut sendiri dibeli menggunakan uang dari gaji dan tunjangan lain yang diberikan dari suami saya. Kemudian tanah tersebut dibangun rumah sekitar tahun 2015, karena memang dirinya dan suami berangan- angan memiliki rumah di Yogya.

Sementara itu, saksi ahli Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan ( PPATK), Mohammad Novian, yang merupakan Ketua Kelompok Advokasi PPATK mengatakan, modus operandi dalam kasus Tipikor, pelaku sering menggunakan rekening atas nama orang lain, bisa keluarga, sahabat dan orang terdekatnya.
Novian juga mengatakan, kesalahan pelaku harus dilihat apakah ada perintah, atau permintaan.****( na).

Filed in: Uncategorized

Comments are closed.