3:29 pm - Wednesday June 19, 6469

Waisak di Borobudur Di jaga Ketat 1.688 APARAT.

RADAR PKRI JATENG – MAGELANG. Sebanyak 1.688 petugas gabungan dari Kepolisian dan juga TNI diturunkan untuk mengamankan perayaan Hari Raya Waisak Nasional Umat Budha Indonesia 2562 BE/2018 yang berlangsung 25 sampai 29 Mei 2018. Ribuan umat Budha mengikuti prosesi kirab atau arak- arakan dari Candi Mendut ke Candi Borobudur.

Selasa tanggal ( 29/5). Kirab ini merupakan salah satu rangkaian peringatan Hari Tri Suci Waisak 2562 BE/ 2018. Kepala Polisi Resort Magelang, AKBP Hari Purnomo, menjelaskan, dalam rangka melaksanakan kegiatan pengamanan rangkaian Waisak, pihaknya melibatkan petugas gabungan sebanyak 1.688 orang terdiri dari 1.281 anggauta polisi dan 402 anggauta TNI. Perserta kirab terdiri dari Bhiksu Bhiksuni dan segenap umat Budha dari berbagai daerah di Indonesia, juga diikuti umat Budha dari berbagai negara. Umat Budha berjalan sejauh 3 sampai 4 kilometer dari Candi Mendut hingga Candi Borobudur sembari mengumandangkan puja bakti.

Kemudian puluhan Bhiksu mengikuti di belakangnya. Umat Budha mengumandangkan doa puji- pujian. Disusul penampilan drum band dan atraksi budaya. Api alam dari Merapen- Grobogan dan air berkah dari Umbul Jumprit diarak menuju Candi Borobudur.

Arak-arakan berjalan meriah dimulai rombongan Bhiksu dengan mengendarai kendaraan berbentuk bahtera. Mereka yang menyipratkan air suci kepada seluruh perserta dan masyarakat yang menonton di sepanjang jalan.
Sebelum arak-arakan dilaksanakan kebaktian Suranggama Mantra, Sutera Pertobatan 88 Budha dan San Pu Yi Pai dipimpin oleh Bhiksu Tadisa Paramita Mahasihavira dilakukan di Zona 1 Candi Borobudur. Lalu dilakukan Pembacaan Paritta Suci di Candi Mendut. Lalu segenap umat mengikuti prosesi kirab.

Ketua Umum Perwakilan Umat Budha Indonesia ( Walubi ), Siti Hartati Murdaya menjelaskan, kirab ini mengandung arti penting. Di mana umat melakukan meditasi bersama- sama dengan cara berjalan kaki.

Dia juga mengatakan, ketika manusia lupa mereka menjadi tidak sadar dan melakukan banyak kekeliruan. Akibatnya, manusia menjadi penuh dengan angkara murka dan memicu bencana. Untuk itu, manusia harus kembali kepada dirinya yang sejati.
Mereka bermeditasi sambil berjalan sehingga dapat melatih kesadaran. Alhasil pikiran menjadi tenang dan seimbang tanpa terganggu apa yang terjadi di luar baik fisik maupun pikiran.

Hal itu yang menjadi sifat alami Budha. Dengan menguasai diri dan fokus terhadap keheningan dalam kesadaran, manusia menjadi lebih tenang. Tidak terganggu oleh apa yang terjadi di luar, baik pikiran maupun fisik. ( na) ****.

Filed in: Uncategorized

Comments are closed.