3:40 pm - Thursday October 24, 5016

Para Sentono Dalem Demo Raja Solo, Tuntut Buka Akses Keraton. Pertama Terjadi Di Indonesia.

JATENG, SOLO.  Tepat Sentono Dalem dan Paguyuban Kawulo Surakarta (Pakasa) demo di depan Kori Kamandungan Keraton Surakarta Hadiningrat, baru-baru ini. Unjuk rasa ini menuntut Paku Buwono (PB) XIII mengakses Desktop Keraton Solo.
Para kerabat raja berjalan dari Siti Hinggil hingga ke Kori Kamandungan. Sampai di Kamandungan mereka membentangkan tiga buah spanduk.
Aksi Koordinator, GKR Koes Moertiyah Pakubuwono, kata-kata yang dilakukan untuk menggali PB XIII membersihkan para Sentono Dalem ke dalam keraton.

Dikatakan pula oleh GKR Koes Moertiyah saya sampaikan terhadap PB XIII melalui aparat yang mengawal masuk, aksi ini akan akan dihentikan hingga dipulihkan ke Keraton. Kalau mau ketemu tidur di depan Kamandungan.

Menurut aksi, Gusti Moeng, panggilan akrabnya, udah satu tahun lebih pihaknya tak dapat mengakses Keraton Surakarta Hadiningrat.

Spanduk bertuliskan “Keraton Bukan Milik Pribadi Pakubuwono XIII; Mohon Keraton Segera Dibuka untuk pariwisata dan pendidikan dan Keraton Surakarta Hadiningrat Milik.
Pihaknya dengan hak-hak yang serius dalam keraton untuk bekerja seperti sedia kala. Untuk ngaladeni apa saja yang menjadi kebutuhan keraton, tawaran keraton, juga menjalankan semua tata cara adat secara benar.

Saat ini kondisi Keraton Surakarta Hadiningrat memprihatinkan. Perannya sebagai pusat urusan makan malam yang sering diakses oleh pelanggan. Ini Bukti Sinuhun harus membantu untuk mengelola keraton karena dia sakit tetapi tidak mampu menjalankan pemerintahannya sendiri. Harus bekerja mengampu dan orang-orang yang selama ini mendampingi Sinuhun harus disingkirkan.

Menurut Gusti Moeng, selaku Sentono Dalem, pihaknya yang merupakan keturunan PB II hingga PB XIII tidak dapat membeli sebelah mata. Dengan tegas Keraton Surakarta Hadiningrat bukan milik pribadi PB XIII, jadi ia mengklaim semua kerabat tersedia hak sama.

Gusti Moeng juga menjelaskan bahwa di dalam keraton dan ini komunitas kita semua. Komunitas adat yang dinaungi oleh Keraton Surakarta Hadiningrat dan Pokoso sudah berdiri sebelum republik berdiri pada tahun 1931.
Kori adalah akses di kategori batas ruang publik dengan ruang pribadi individu atau komunal bangsawan, dalam wujud celah atau atap tanpa lubang, lubang beratap, atau di luar ruanganap dengan dinding berlubang pembagi ruangan, atau dalam bahasa yang sederhana, koriituakna pintu (gerbang).
Di Kamandungan ada cermin besar untuk bercermin sebelum masuk keraton atau istana. Secara lahiriah, hal-hal tersebut yang memungkinkan siapa pun yang akan masuk ke dalam kraton berhenti lisan untuk bercermin, atau mengoreksi apakah pakaian yanf sudah cukup untuk masuk ke dalam kraton. Secara batiniah, keterbaian agar manusia ingin selalu bercermin akan tingkah laku dan juga menjaga kesucian hati. Sikap yang seperti ini memunculkan ungkapan mulat sarira hangrasa wani, yang berarti tanggap diri seperti layak, bersih, rapi bertatakrama dalam ‘berbusana’ (agagama aging aji) untuk menghadap Sang Pencipta.
Sedangkan, kamandungan berasal dari kata mandhungyang berarti berhenti (sesaat). Melewati gerbang pelataran Kamandungan dan menapaki Balerata menuju Kori Kamandungan dan laku batin sampai pada bagian prosesi Penembah (Andhung). (na) ****.

Filed in: Infotainment

Comments are closed.