3:14 pm - Sunday December 18, 5312

PEMERINTAH DINILAI KANGKANGI BUTIR-BUTIR PANCASILA DAN ABAIKAN RINTIHAN DAN TANGISAN HONORER YANG TERKENAL DENGAN SEBUTAN PEGAWAI TERMISKIN DIDUNIA!

RADAR PKRI. SUMUT, penyabungan. Sungguh miris mendengar derita honorer di negri ini sepertinya tak berkesudahan, bayangkan masih ada gaji Dengan kualifikasi pendidikan sarjana yang nominalnya jauh di bawah UMR yakni kisaran duaratusan ribu Rupiah perbulannya. mereka adalah Honorer yang kebanyakan bekerja di instansi pemerintah seperti sekolah-sekolah negri yang menyebar diseluruh penjuru negri.

Pemerintah dinilai telah mengankangi Butir-butir pancasila yakni sila kedua dan sila ke lima padahal sumber dari segala sumberhukum di negri ini adalah Pancasila. Kenapa tidak! Bayangkan nasib yang menimpa jutaan honorer di negri ini mereka bekerja diinstansi yang sama dengan pekerjaan yang sama pula tapi tidak mendapat perlakuan yang sama dari pemerintah.

Akibatnya pegawai honorer kategori II (KII) juga Honorer Non Kategori lintas instansi menangis sembari melakukan longmarch ke DPRD Sumatera Utara dan dilanjutkan ke kantor Gubernur sumatera utara untuk mengadukan derita Mereka. Aksi ini terkait belum diangkatnya para honorer menjadi PNS karena terganjal UU ASN NO.5
Saat menggelar aksi di depan DPRD Sumatera Utara, perwakilan honorer memaparkan kesusahan hidupnya didepan anggota Komisi C DPRD Sumut, Sutrisno Pangaribuan yang kebetulan menemui masa aksi. Kata para honorer, pemerintah seakan menganak tirikan honorer terutama honorer K2.

Padahal tahun 2005, sempat terbit PP No 48 yang menyebut akan mengangkat seluruh tenaga honorer. Namun, pada tahun 2013, pengangkatan kami justru terganjal dengan PP No56 tahun 2012″ kata Bisri Samsuri Nasution Rabu (25/10/2017).

Ketua DPD LSM TUMPAS dimadina ini juga mengatakan, kebijakan pemerintah ini sama sekali tidak berpihak pada honorer terutama K2 yang digaji bukan Dari Apbn dan juga Bukan dari Apbd mereka digaji dulu digaji Dari Uang BP3 dan saat ini dari dana Biaya Operasional Sekolah (BOS). Katanya, teman-teman sesama honorer yang digaji lewat APBN dan APBD justru diluluskan tanpa melalui testing.

“Eh… tiba giliran honorer yang digaji bukan dari Apbn dan Apbd hanya direkrut 30 persen pak! Sementara rekan-rekan yang digaji Apbn dan Apbd malah diluluskan begitu saja. Tentu kami sangat sedih,” kata Bisri.
Sutrisno yang menerima ratusan honorer ini berjanji akan menyampaikan pesoalan ini saat Rapat Dengar pendapat nanti dan akan kita bawa masalah ini ke DPR RI. Katanya, ia akan mengundang para honorer untuk melakukan dialog saat rapat dengar pendapat (RDP) nanti.

“Kewenangan kami ini terbatas pak, bu. Yang memutuskan itu bukan kami. Begitupun, kami tetap memperjuangkan nasib bapak ibu. Apalagi, seperti guru honorer misalnya, saya bisa merasakan itu. Karena orangtua saya pun juga guru,” pungkas Sutrisno Dpr dari PDI Perjuangan ini.

Selama melakukan aksi, para honorer menyanyikan lagu Indonesia Raya. Mereka juga melantunkan lagu Himne Guru dengan suara lantang dan di iringi tangisan selesai ber orasi mereka membubarkan diri dengan tertib.

Setelah aksi unjukrasa selesai team Tumpas mendapat telfon dari Pimpinan Pusat Gemagong Pancasila di jakarta dan menyatakan dukungannya terhadap perjuangan honorer. Beliau juga berpendapat pemerintah saat ini seolah menghidupkan kembali peristiwa Romusa saat penjajahan jepang terhadap rakyat indonesia sembari berucap dapet apa uang 2 ratusan ribu. Beliau juga berkomentar saat ini para pejabat seolah beranggaban bahwa uang negara yang bersumber dari pajak rakyat itu mungkin dikira uang pribadi sehingga sulit dana itu dipakai untuk kesejahteraan rakyat termasuk Honorer.(TIM)

Filed in: Ragam Kejadian

Comments are closed.