3:14 pm - Tuesday December 18, 5866

“Polsek Tenayan Raya Ungkap Perdagangan Anak Dibawah Umur(Trafficking)”


PKRI News Pekanbaru,RiauRabu(12/04/2017). Polsek Tenayan Raya, Polresta Pekanbaru ungkap perdagangan anak dibawah umur di lokalisasi Meredan, Kecamatan Tenayan Raya. Empat anak dibawah umur yang berasal dari Provinsi Banten berhasil diselamatkan dan dibawa ke Mapolsek Tenayan Raya.

Kapolsek Tenayan Raya, Kompol Indra Rusdi, Rabu (12/4/2017) mengkonfirmasi, satu orang perempuan berinisial Y alias Dedek (40) warga Kulim, Kecamatan Tenayan Raya yang merupakan mucikari juga turut diamankan. Menurut Indra Rusdi, pengungkapan tersebut berawal dari informasi adanya anak dibawah umur yang dipekerjakan di sebuah kafe di lokalisasi Meredan.

Informasi tersebut ditindaklanjuti dengan melakukan penyelidikan. Benar saja polisi mendapati M (16) yang bekerja di salah satu kafe di lokasi tersebut. Hasil pemeriksaan, M mengaku berasal dari Banten dibawa oleh Y alias Dedek. M juga mengaku dijebak oleh Dedek dengan iming-iming pekerjaan yang layak di Riau. Namun kenyatannya, M justru dipekerjakan di kafe di lokalisasi Meredan.

” Kita juga selamatkan tiga anak dibawah umur lainnya yang juga dipekerjakan di lokalisasi tersebut,” terang Kapolsek Tenayan Raya Kompol Indra Rusdi.

Selama bekerja di lokalisasi tersebut, M mengaku sudah dua kali melayani tamu. Untuk sekali layanan tersebut ia dibayar Rp 250 ribu. Celakanya uang itu diambil oleh mucikari Dedek dengan alasan korban harus membayar hutang transportasi dari Banten ke Provinsi Riau.

“Kita masih lakukan pendalaman. Mucikari berinisial Y alias Dedek ditetapkan sebagai tersangka,” papar Indra.

Pengungkapan penyelamatan eksploitasi anak dibawah umur polisi menyita barang bukti pil KB, buku yang berisi catatan pelayanan yang diberikan pada tamu, serta celana pendek.

Perdagangan anak adalah suatu kejahatan yang melanggar Hak Asasi Manusia (HAM),lemahnya penegakan hukum dan HAM di Indonesia disebabkan belum dilaksanakannya pembangunan hukum yang komperehensif. Akibatnya kepastian keadilan dan jaminan hukum tidak tercipta dan akhirnya melemahkan penegakan supremasi hukum. Dalam kondisi seperti ini HAM masih sangat memprihatinkan seperti tercermin dalam bentuk berbagai pelanggaran HAM dalam bentuk kekerasan.
 
 Perdagangan Anak, Pelanggaran HAM, Sanksi Pidana:
Sanksi Pidana Perdagangan Anak Dalam KUHP dan Luar KUHP
 Dalam KUHP.Di Indonesia penerapan sanksi dalam hukum pidana terdapat dalam KitabUndang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Sanksi pidana perdagangan anak dalamKUHP dapat dinyatakan sebagai berikut :Dalam sistematika KUHP, mengenai tindak pidana perdagangan anak dinyatakan dalam buku II Pasal 297 KUHP sebagai berikut :
“Perdagangan wanita dan perdagangan anak laki-laki yang belum cukup umur, di pidana dengan pidana penjara selama-lamanyaenam tahun”. Dari rumusan Pasal 297 ini perdagangan anak dikualifikasikan sebagai tindak pidana kejahatan.
 Di Luar KUHP Diluar KUHP terdapat beberapa undang-undang yang mengatur tentang penerapan sanksi pidana perdagangan anak yaitu : Undang-Undang No. 24 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Pasal 83 yang berbunyi “Setiap orang yang memperdagangkan, menjual atau menculik anak untuk diri sendiri atau untuk dijual, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan paling singkat 3 tahun dan denda paling banyak Rp. 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah)dan paling sedikit Rp. 60.000.000 (enam puluh juta rupiah). 
Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Pasal 74 dan Pasal 183 yang berbunyi :Pasal 183 yang berbunyi : (1) Barang siapa yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 74, dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 2 tahun dan 4.

 

 paling lama 5 tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. 200.000.000 (dua ratus jutarupiah) dan paling banyak Rp. 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).Pasal 74 yang berbunyi : (1) Siapapun dilarang mempekerjakan dan melibatkan anak pada pekerjaan-pekerjaan yang terburuk(2) Pekerjaan-Pekerjaan yang terburuk pada ayat (1) meliputi :Segala pekerjaan dalam bentuk perbudakan atau sejenisnya.
Segala pekerjaan yang memanfaatkan menyediakan atau menawarkan anakuntuk pelacuran, produksi, pornografi, pertunjukan porno, atau perjudianc. Segala pekaan yang memanfaatkan, menyediakan atau melibatkan anak untuk produksi dan perdagangan minuman keras, narkotika, psikotropika, dan yang diktif lainnya dan atau Semua pekerjaan yang membahayakan kesehatan atau moral anak.(Unan)
Redaktur:Unandra

 

 

Filed in: Hukum Kriminal, PKRI News

Comments are closed.