3:37 pm - Wednesday September 20, 9713

*SELAYANG PANDANG

*SELAYANG PANDANG
Mabes pers pkri
(catatan yang tercecer
dibuang sayang….)

Hari tanggal 17 Agustus pada setiap tahun adalah hari bersejarah bagi kita anak bangsa Indonesia.
Beragam kemeriahan sukacita menyambut dan merayakan hari kemerdekaan Tujuh belasan.
Upacara kebesaran di Istana Negara dan disetiap instansi pemerintah pemerintah daerah, BUMN, menandai betapa anak Bangsa Indonesia tercinta ini senantiasa mengenang hari bersejarah kemerdekaan Indonesia yang dulu diperoleh lewat perjuangan, hidoep ataoe mati, harta, darah dan air mata, para pejoeang pejuang pada masa itu.
Tidak sedikitpun dengan niat mengesampingkan nilai nilai makna kehidmatan setiap runtut acara lainnya, marilah sejenak saja kita perdalam pengamatan pada dua acara pokok setiap upacara yaitu pengibaran SANG SAKA MERAH PUTIH dan MENGHENINGKAN CIPTA, mengenang dan mendoakan para pejoeang pejuang kemerdekaan kita yang gugur.

Pada pengibaran Sang Saka Merah Putih dipastikan diiringi lagu Indonesia Raya berikut syairnya dan kita semuanya TENGADAH melakukan hormat bendera, itu terasa hidmat sekali.

Pada acara mengheningkan cipta dipastikan pula semua kepala kita TERTUNDUK, menunduk sendu MENATAP bumi diiringi instrunental lagu Andhika Bhayangkari, tetapi tidak dengan terikut syairnya..

Tentang hal ini, ada terdapat suatu catatan tercecer yang dibuang sayang.
Kebanyakan dari kita tidak pernah tahu seperti apa syair nada instrumental lagu Andhika Bhayangkari itu dan apa makna dibalik lantunan nada lagu itu termasuk siapa penciptanya, kita hanya bisa merasakan rasa yang menghanyutkan perasaan membuat bulu kuduk kita meremang, itupun kalau kita dengan sebenar benarnya menghayati lantunan nada nadanya. Mari lebih jauh dan dalam, diperdalam lagi hal ikhwal yang sering lolos dari pengamatan kita, yakni pada sosok sosok renta peserta upacara yang biasanya berada disudut atau pada bagian tertentu para undangan, para renta itu yang berseragam hijau muda lusuh, berpeci kuning, memakai tanda jasa seadanya… wajah keras yang kehilangan expresi …. miris, miris sekali.
Padahal sesungguhnyalah bagaimana mungkin kita bisa mengesampingkan bakhwa dibalik seragam lusuh kebanggaan mereka itu, dari dalam butir butir kepala yang kosong bertutup peci kuning, ada semburat wajah kekar pantang menyerah, gagah berani, berjiwa dan semangat pejuang sejati, tetapi ada pula kepasrahan fikir dan hidup dibalik tatap mata renta yang berurai air mata saat ketika mereka mendengarkan, merenungi, meresapi Andhika Bhayangkari….
Pernahkah ada diantara kita bertanya kepada mereka ? KENAPA BAPAK atau EYANG bisa tersedu sedan menangis berurai air mata ketika mengheningkan cipta diiringi instrumental lagu ANDHIKA BHAYANGKARI.
Sudahlah ! kita yakini saja, walaupun kita ada bertanyakan akan hal itu, mereka para renta itu akan balik menatap tajam wajah kita kemudian tersenyum, dan tidak sepatahpun kata keluar dari mulutnya…. para renta itu baru saja merenungi, mengenang, mendo’akan kawan kawan sahabat sahabat seperjuangannya yang telah gugur membela Merah Putih… sementara mereka para renta itu tidak pernah tau dimana jazad kawan kawan mereka terkubur, mungkin berada didalam tanah dibawah jalan raya, bisa jadi didalam tanah dibawah gedung tinggi bertingkat, bisa pula didalam tanah sawah atau kebun pak Tani dipedusunan….

Mereka para renta yang berpeci kuning itu tidak banyak menuntut untuk dihargai juga tidak untuk kawan kawan mereka yang gugur, tetapi cerminan kebanggaan mereka pada Merah Putih, pada rasa NASIONALISME yang tak pernah padam, sepatutnya menjadi warisan bagi kita generasi penerus turut ambil bagian mengisi kemerdekaan Negeri ini dengan senantiasa menjaga keutuhannya.
Jayalah Negeri kita
Jayalah Indonesia kita.

Red Pel Pers pkri.

catatan : Instrumental lagu Andhika Bhayangkari diperdengarkan mengiringi saat saat mengheningkan cipta dan diperdengarkan juga pada saat mengantarkan prajurit TNI/POLRI yang GUGUR kepemakaman, dipemakaman.

Filed in: Infotainment

Comments are closed.