3:37 pm - Wednesday September 20, 8473

Seni dan Budaya

Filosofi “masa lalu

* i.adhitya

(nama pena dari Imam Soetjipto)

Kepada Bunda Pertiwi,

Tentang masa lalu, setiap orang dipastikan punya masa lalu bah kan terkadang tidak lebih baik dan menyenangkan daripada ma sa lalu kita sendiri atau orang orang lain, selainnya.

Dan siapapun “IA”, tampankah, cantikkah, konglomeratkah, atau orang melarat, tak terkecuali pa ra pimpinan “pimpinan”, pun ju ga penguasa yang pernah atau bermimpi berkuasa ,berjaya, (terkait dengan masa lalunya) ada pada saatnya akan meneri ma giliran hujatan, sumpah sera pah, atau pujian atas suatu kena ngan baik dan indah akan setiap perbuatannya atau bisa juga mungkin terlupakan sama sekali oleh perjalanan waktu, semen tara akhir perjalanan waktu itu sendiri tidak akan pernah menge nal perpanjangan waktu sebagai mana halnya aturan pada perma inan bola sepak, itulah kematian ! akhir perjalanan kehidupan kita manusia. Kita sepakati saja dulu hal itu dan sebaiknya lah mulai bersiap siap menerima hal sede mikian ini. Maka oleh karenanya terseliplah keengganan fikirku untuk mencontohkan orang per orang pada telaah masa lalu ini, sekalipun ada terdapat pada ma sa dulu seorang filsuf Yunani yang membawa obor disiang hari terik guna penerangan, dalam usaha nya mencari “manusia” pa da masa itu, ada Mahatma Gan dhi dengan ajaran kasih sayang nya (ahimsa), ada Ki Hajar Dewa ntara bapak pendidikan yang me ngajarkan keteladanan terpuji se orang pendidik bagi murid murid nya (Tutwuri handa yani),guna se nantiasa ada dalam teladan inga tan kita. Lantas kenapa demikian ? Bukankah ? Sepertinya ada se macam kemalasan fikir oleh tra disi bakhwa banyak diantara kita lebih memilih memberikan “nilai /penghargaan”, tidak disaat sese orang masih hidup atau katakan lah saja, ketika ia dalam keadaan seteng ah hidup (bila demikian ini yang dilakukan berkemungki nan akan memberikan arti terse ndiri bagi sisa sisa kehidupan nya)  melainkan diberikan pada saat ia telah tiada (mati !). Kedangkalan fikirku barangkali penjebab aku kurang menyukai hal itu dan aku tidak berharap akan menjadi perdebatan yang berkepanjangan,karenanya.

Sejenak saja merenungi ke tahun 1883 yang juga adalah tahun ma sa lalu dan patut dikenang. Sebuah gunung berapi di Nusan tara meletus, gunung Krakatau di selat Sunda mengguncang be lahan sebahagian dunia, meluluh lantakkan tatanan hidup, meng hancurkan peradaban sebahagi an manusia disepanjang pantai, terikut dipedalamannya…. bertahun diperlukan waktu,bang kitnya tatanan kehidupan, pera daban, oleh manusia dan oleh alam itu sendiri. Kita tidak faham secara betul bagaimana rupa se belum Krakatau murka, apakah mungkin, baru setelahnya kemu dian alam serta tata kehidupan, peradaban yang pernah diluluh lantakkannya jauh lebih baik, san tun dan ramah? Atau sebaliknya! Dan kemudian, terdapatlah sebu ah lagi ingatan ke tahun 1945 tentang luluh lantaknya tata hi dup dan peradaban manusia oleh tangan tangan dan fikir ma nusia itu sendiri,betapa menge rikan peristiwa Hirosima dan Na gasaki ! Hancur berantakan mera ta tanah, Kesemua kehancuran itu adalah akibat keserakahan, ambisi, egocentris,kesombongan para penguasa dan tentu saja ke bodohan orang orang yang ma las berfikir, turut ambil bagian  kemudian larut dan hanyut ikut ikutan begitu saja kedalam suatu permainan keserakahan dan ke sombongan yang ia sendiri pada sesungguh nyalah tidak pernah tau kenapa ia bisa larut dan ke mudian ikut hanyut..? Wahai Bun da Pertiwiku nan rupawan, kume nyayangimu, aku sangat mencin taimu,aku senantiasa berharap takkan pernah ada reinkarnasi, filsuflah ia ? yang membawa obor di siang hari terik karena sedang mencari “manusia” ! diha ribaanmu, seperti terjadi dimasa lalu, aku berdo’a pada Tuhanku Pengatur sekalian alam,tidak ada Krakatau murka  seperti dimasa lalu,tidak pula tragedi Nagasaki dan Hirosima menghampirimu dan izinkan daku pula bertanya pada putra putri mu lainnya akan kah mereka mau harus menggunakan visa,pas port ke tika berkunjung pada saudara nya di Kalimantan, Papua, Am bon, Jawa? Dikarenakan negeri ini tidak lagi bernama INDONESIA ?

 

Filed in: Kultur Budaya, Pendidikan

Comments are closed.