6:55 pm - Friday December 15, 2017

Tugu Kujang di Kota Bogor yang Tak memiliki Galeri Kujang.

MEDIA PKRI JABAR BOGOR, Tugu Kujang yang terletak di kota Bogor adalah suatu kebanggaan bagi masyarakat, serta memiliki nilai history dan edukasi. Dan masih banyak masyarakat yang belum tahu jenis, bentuk dan kegunaan daripada Kujang. Terkadang warga bogor hanya bisa melewati tugu bogor itu. Nah, ada seorang Dosen yang memiliki ribuan kujang dan keris di rumahnya, beliau menjelaskan arti kujang. Kujang sebuah senjata unik dari daerah Jawa Barat. Kujang mulai dibuat sekitar abad ke-8 atau ke-9, terbuat dari besi, baja dan bahan pamor, panjangnya sekitar 20 sampai 25 cm dan beratnya sekitar 300 gram.

Kujang merupakan perkakas yang merefleksikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan juga melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran. Menjadi ciri khas, baik sebagai senjata, alat pertanian, perlambang, hiasan, ataupun cindera mata.

Kujang dikenal sebagai benda tradisional masyarakat Jawa Barat (Sunda) yang memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magis. Beberapa peneliti menyatakan bahwa istilah “kujang” berasal dari kata hyangkudi (kudi dan Hyang). Kujang berasal dari kata Ujang, yang berarti manusia atau manusa. Manusia yang sakti sebagaimana Prabu Siliwangi.
Kudi diambil dari bahasa Sunda Kuno yang artinya senjata yang mempunyai kekuatan gaib sakti, sebagai jimat, sebagai penolak bala, misalnya untuk menghalau musuh atau menghindari bahaya/penyakit. Senjata ini juga disimpan sebagai pusaka, yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkannya di dalam sebuah peti atau tempat tertentu di dalam rumah atau dengan meletakkannya di atas tempat tidur. Sementara itu, Hyang dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, namun bagi masyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa, hal ini tercermin di dalam ajaran “Dasa Prebakti” yang tercermin dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian disebutkan “Dewa bakti di Hyang”.
Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). Sebagai lambang atau simbol dengan nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta pemerintahan. Disamping itu, Kujang pun dipakai pula sebagai sebuah nama dari berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Provinsi Jawa Barat.
Pada masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah di antaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.
Menurut seorang Dosen yang mengajar di salah satu perguruan STIE di kota bogor mengemukakan,bahwa di kota Bogor sampai saat ini belum memiliki galeri atau museum kujang. Padahal benda-benda tersebut memiliki nilai history dan edukasi.
Seorang dosen yang memiliki daya linuwih ini terkadang dalam satu minggu,kedatangan seperti kujang dan keris datang sampai 2 kali. Saat di temui di rumahnya beliau mengatakan,  ” Saya memang memiliki ribuan kujang dan keris, tapi saya bingung mau di titipkan ke mana. Sampai saat ini saya masih mencari seseorang yang peduli dan mau bekerjasama melestarikan budaya. Dan saya ingin pertunjukan melalui pameran atau dibangunkan galeri atau museum, bahwa kujang dan keris memiliki jenis dan bentuk serta memiliki history sang pemiliki di masanya. Jujur terkadang saya merasa kerepotan dalam perawatan karena kesibukan saya. Maka dari itu kepada siapa saya titipkan benda bersejarah ini. Saya berharap pemerintah mau bangunkan galeri atau museum.”
Di tempat terpisah Rohani seorang mahasiswa mengemukakan (25/08),” Mang saya sudah pernah melihat beberapa benda-benda yang di milikinya,ada kujang, keris, tombak dan ada juga keris yang panjangnya 2,5 meter. Saya apresiasi kepada pak dosen mau peduli kelestarian budaya padahal dia sibuk mengajar. Mang sangat di perlukan adanya museum guna pertunjukan benda bersejarah yang di milikinya.”( Fito)
Filed in: Infotainment

Comments are closed.