10:54 pm - Sunday May 26, 2019

Umat Hindu Kota Semarang Doakan Pemilu 2019 Damai dan Lancar.

Semarang.JawaTengah. Umat Hindu di Kota Semarang sedang melakukan proses Tawur Agung Kesanga, sebagai wujud terimakasih kepada alam semesta di Pura Giri Natha, Semarang, Rabu (6/3/2019) petang. Sebelumnya, mereka sudah melakukan upacara Melasti di Pantai Marina Semarang sebagai serangkaian proses sebelum melakukan meditasi saat Nyepi. Umat Hindu di Indonesia pada hari Kamis (7/3/2019), kemarin akan melakukan Nyepi, sebagai peringatan Hari Raya Saka 1941. Tak terkecuali umat Hindu yang ada di Kota Semarang.

Sehari sebelum dilaksanakannya Nyepi, umat Hindu di Kota Semarang melakukan Tawur Agung Kesanga di Pura Giri Natha, yang ada di Jalan Sumbing no 12, Bandungan, Gajahmungkur, Kota Semarang.

Menurut I Nengah Wirta Dharmayana, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Semarang, Tawur Agung merupakan prosesi bentuk rasa syukur kepada alam semesta.

“Karena alam sudah memberikan apapun kepada manusia, maka upacara Tawur Agung Kesanga sebagai wujud terimakasih kepada alam. ” jelasnya.

Rabu (6/3/2019) petang, beberapa umat Hindu yang ada di Pura Giri Natha nampak memanjatkan doa-doa disertai dengan gamelan khas Bali. Mereka duduk bersila berhadapan langsung dengan beberapa sesaji yang diberi dupa.

Walaupun sore itu hujan nampak cukup deras, namun tak menyurutkan prosesi Tawur Agung yang berlangsung hingga pukul 21.00 ini. Selain ada yang memanjatkan doa di depan Utama Mandala, ada pula beberapa orang yang beribadah di dalam Utama Mandala.

Pria pensiunan polisi ini menambahkan, upacara Tawur Agung Kesanga dilakukan berdasarkan pada konsep ajaran Tri Hita Karana. Yaitu menyelaraskan hubungan dengan tiga elemen.

“Manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam semesta. Kami juga sekaligus memanjatkan doa supaya Pemilu tahun 2019 berjalan lancar dan damai,” imbuhnya.

Sebelum Tawur Agung Kesanga, umat Hindu Kota Semarang pada hari Minggu (3/3/2019) mengadakan upacara Melasti di Pantai Marina Semarang. Upacara ini dilakukan dengan menghanyutkan kotoran dari alam ke air kehidupan.

“Itu sudah kami lakukan. Jika di Bali upacara Melasti diadakan sehari sebelum Nyepi, baru- baru inu ,” tuturnya.

Saat melaksanakan Nyepi, umat Hindu harus melakukan Catur Brata Penyepian. Di antaranya Amati Karya, Amati Lelungan, Amati Geni, dan Amati Lelanguan.

“Amati Karya, artinya saat Nyepi dilarang bekerja. Amati Lelungan dilarang untuk pergi kemanapun, kecuali darurat. Kemudian Amati Geni, dilarang menyalakan lampu dan api. Terakhir Amati Lelanguan, yakni dilarang bersenang-senang,” paparnya.

Ia menambahkan, sehingga umat Hindu selama Nyepi aktifitasnya hanya di rumah untuk melakukan meditasi dan meningkatkan spiritualitas. Sekaligus, introspeksi diri dari satu tahun sebelumnya.

“Lalu setelah 24 jam melakukan Nyepi, jika di Bali umat Hindu akan bersuka cita dengan memainkan kentongan. Tapi di Semarang tentu tidak. Karena menyesuaikan lingkungan sekitar,” terang Nengah.

Usai melakukan Nyepi, umat Hindu akan melakukan Dharma Santi. Yaitu saling memafkan antar manusia. Sama seperti Halal Bi Halal yang dilakukan oleh umat Islam.

“Dharma Santi sama seperti Halal Bi Halal. Kami saling memaafkan. Tidak hanya kepada sesama umat Hindu, tetapi juga masyarakat lain di lingkungan sekitar,” imbuhnya.

Satu di antara umat Hindu yang mengikuti Tawur Agung Kesanga, Ni Nyoman Linawati (23), mengatakan baru kali ini melaksanakan Nyepi di Kota Semarang. Wanita yang berasal dari Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) ini, juga baru tiga kali ikut upacara di Pura Giri Natha.

“Saya baru satu tahun di Semarang. Jadi kegiatan umat Hindu di sini yang saya ikuti baru tiga. Purnama, Hari Raya Tilem, dan Nyepi ini,” ujar mahasiswa pascasarjana Politekkes Kemenkes Semarang ini.

Pelaksanaan ibadah di Kota Semarang dan tempat asalnya tidak jauh berbeda.(135).

Filed in: PKRI News

Comments are closed.