CYBER-PKRI. PWI/II Sosok Putra Tulungagung ini merupakan cerminan nyata, Putra daerah kelahiran asli Tulungagung, langkahnya yang ideal,cukup berhasil menyelaraskan antara keahlian profesional (jago rias) & kepedulian sosial ,cekatan membantu para kawan, lebih dari sekadar terampil,ini menjelma sebagai sosok “Pejuang “masa kini dengan khas bahasa daerah visioner, adaptif, dan siap menyongsong perubahan baik bersama.
Melalui kombinasi bakat tata rias dan ketulusan hatinya, ia tidak sekadar mempercantik penampilan fisik orang lain. Ia ikut memperindah kehidupan sesama lewat aksi sosial tanpa pamrih, sekaligus membuka ruang bagi masyarakat sekitar untuk tumbuh, mandiri, dan maju bersama.
Dedikasi ini tidak hanya hidup sejalan dengan filosofi luhur tanah kelahirannya (pitulungan agung), tetapi juga menjadi motor penggerak emansipasi dan perubahan positif yang berkelanjutan di era modern.
Tulungagung itu beda lagI, julukannya bukan kota pariwisata tapi *KOTA MARMER*. Gudangnya batu marmer terbesar se-Indonesia.
CIRI KHAS Paling Kentara: Marmer:* Di Tulungagung itu kalau bangun rumah pakai marmer itu biasa. Dari lantai, meja, sampai nisan, semua marmer. Ada Pasar Marmer di Campurdarat, kamu bisa lihat langsung pengrajin motong batu gunung.
Bahasa Jawa Mataraman: Bahasa Jawa halusnya kental, beda sama Cirebon yang blak-blakan atau Banyuwangi yang Osing. Orang Tulungagung ngomongnya lebih alus, “monggo, injih”.
Kuliner Gurih & Legendaris: Ayam Lodho:* Ayam kampung bakar bumbu santan pedas, dibakar sampai hitam. Ini ikon no.1
Sate dan Gule Kambing Tulungagung: Gulenya bening, bukan santan kental Sompil:* Lontong isi, mirip arem-arem tapi khas sana. Jenang Syabandi:* Jenang dodol asli Tulungagung
BUDAYA & TRADISI: Reog Kendang:* Bukan Reog Ponorogo yang pakai singa besar. Reog Kendang ini semua pemain main kendang sambil nari, musiknya sangat kencang dan atraktif. Ada 30 penari kendang.
Upacara Larung Sembonyo:* Sedekah laut di Pantai Popoh, mirip Nadran di Cirebon. Warga larung tumpeng ke laut untuk syukur nelayan.
Tiban / Ter-Teran:* Tradisi hujan-hujanan. Dua orang saling cambuk pakai lidi aren waktu musim kemarau biar turun hujan. Agak ekstrem tapi itu tradisi turun temurun dari Kediri-Tulungagung.
Jaranan & Wayang Tengul:* Wayang bonekanya besar, dimainkan di desa-desa.
Alam & Sejarah: Pantai Selatan:* Popoh, Sine, Sidem, Coro. Garis pantainya panjang, pasir putih tapi ombak besar Samudra Hindia.
Candi Dadi & Goa Selomangleng:* Peninggalan Kerajaan Kediri – Tulungagung itu dulu pusat Kediri.
Industri Konveksi: Selain marmer, Tulungagung itu sentra konveksi kaos dan bordir. Makanya murah-murah.
Kalau dibanding 2 tadi: Banyuwangi: Pantai + Budaya Osing + Festival. Cirebon: Keraton + Batik Mega Mendung + Kota Wali Tulungagung: Gunung Marmer + Ayam Lodho + Reog Kendang + Pantai Selatan Jawa Timuran
Karakternya: orang Tulungagung pekerja keras, banyak perantau, alus tapi ulet (khas Mataraman).Bela Bangun Jaga. Rabu ,16 September 2026.
Oleh : Siti Kustiyah
( TIM PKRI CADSENA MAKOSUS HK )
