Berani Mundur dari Kursi Wakil Gubernur Demi Prinsip, Siapa Sangka Perwira Korps Zeni Ini Justru Sukses Meraih Pangkat Bintang Tiga. ” BA²BE BACA BACA BERITANYA”

VYBER PNRI – DKJ. Dunia militer tanah air mengenal sosok Letnan Jenderal TNI Johannes Suryo Prabowo sebagai seorang ksatria sejati yang lahir di Semarang pada 15 Juni 1954 dari keluarga prajurit yang sangat menghargai nilai-nilai keberagaman Nusantara.

Sejak masa muda, kecerdasan dan kedisiplinannya telah terlihat menonjol hingga ia berhasil menyelesaikan pendidikan di AKABRI pada tahun 1976 dengan menyabet dua penghargaan tertinggi sekaligus, yaitu Adhi Makayasa dan Tri Sakti Wiratama.

Awal karier lapangannya sebagai perwira muda korps Zeni justru dimulai dari titik yang penuh dengan ujian fisik dan mental yang berat saat ditempatkan sebagai Komandan Peleton di Batalyon Zeni Tempur 1 Kodam Bukit Barisan.

Akibat padatnya penugasan operasi tempur di daerah-daerah rawan seperti Aceh, Papua, hingga Timor Timur, ia sempat berada di titik terendah dalam hal kesempatan akademik karena tidak memiliki waktu untuk menempuh pendidikan tinggi di luar negeri seperti rekan-rekan seangkatannya.

Kemampuan teknisnya di lapangan didapatkan secara autodidak melalui keberaniannya memimpin operasi peledakan bawah laut yang berbahaya di Sibolga hingga memimpin pemotongan gedung bertingkat secara cepat di Medan demi keselamatan penerbangan.

Garis takdir kehidupannya menemui titik balik yang sangat dramatis dan langka dalam sejarah ketika ia memilih mengundurkan diri dari jabatan Wakil Gubernur Timor Timur pada tahun 1998 karena memiliki pandangan politik yang berseberangan dengan pemerintah pusat.

Keputusan berani yang membuatnya sempat kehilangan jabatan dan berstatus tanpa posisi selama dua tahun tersebut tidak melunturkan jiwa keprajuritannya, bahkan ia secara sukarela kembali ke medan konflik demi mengawal transisi penyerahan wilayah tersebut.

Sejarah mencatat namanya dengan tinta unik sebagai perwira tinggi terakhir yang membawa kain Merah Putih keluar dari Timor Timur pada tahun 1999, sekaligus menjadi perwira tinggi Indonesia pertama yang menginjakkan kaki kembali di negara baru tersebut saat memimpin pengamanan presiden pada tahun 2002.

Profesionalismenya yang tanpa kompromi membuat karier militernya tetap melesat tinggi hingga dipercaya memegang tongkat komando sebagai Panglima Kodam I/Bukit Barisan, Pangdam Jaya, hingga dipromosikan menjadi Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat.

Sebelum memasuki masa purnabakti pada tahun 2012, ia mengakhiri masa dinas aktifnya sebagai Kepala Staf Umum TNI dengan warisan berharga berupa penulisan puluhan buku panduan taktik bertempur demi mendidik generasi muda agar selalu membiasakan hal yang benar.

Kini, di masa pensiunnya, sosok pencinta lingkungan yang aktif dalam cagar alam ini terus menginspirasi banyak orang lewat keteguhan prinsipnya yang menolak masuk ke dunia politik praktis demi menjaga kesucian nilai-nilai keprajuritan yang sejati.

Pewarta/Deroi

Sumber: Wikipedia

Filed in: PWI-I

Comments are closed.