TEGAS & BERANI! BAHLIL LAHADALIA GEBRAK MEJA DI MINERBA CONVEX 2026: “STOP EKSPOR SDA LEWAT NEGARA STEMPEL! KIRIM JAKARTA LANGSUNG KE CHINA! INDONESIA BERDAULAT, JANGAN DIATUR-ATUR!” – PENGUSAHA TAMBANG BERI STANDING APPLAUSE
PWI/I-CYBER PNRI. *JAKARTA – 3 November 2026* Kalau kemarin netizen nangis haru nonton KHW 400 PULANG 83 Juta Views, hari ini netizen *NANGIS BANGGA* dengar pidato berapi-api *Menteri Koordinator Hilirisasi & Transisi Energi yang juga Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia!*
Dalam pembukaan *Mineral and Batubara Convention and Exhibition (Minerba Convex) 2026* di Jakarta, Senin pagi 2 November 2026, Bahlil yang terkenal dengan gaya blak-blakan Papua-nya, mengeluarkan instruksi keras yang bikin ribuan pengusaha tambang yang hadir langsung berdiri tepuk tangan!
*INSTRUKSI KERAS BAHLIL YANG BIKIN VIRAL DI TIKTOK 24 JAM TERAKHIR:*
> *”PAK DIRJEN! SAYA PERINTAHKAN LEWAT FORUM INI! JANGAN LAGI ADA PENGIRIMAN SUMBER DAYA ALAM KITA, KALAU KITA EKSPOR YA LEWAT TRANSIT NEGARA TERTENTU. YA, SAYA NGGAK MAU!”*
> *”KIRIM DARI JAKARTA LANGSUNG KE CHINA! TIDAK BOLEH DARI JAKARTA MAMPIR KE NEGARA YANG ITU YA! HANYA STEMPEL, BARU DIA BILANG INI EKSPOR DARI NEGARA DIA. DARI MANA BARANG KAU? LANGSUNG AJA, LANGSUNG!”*
> *”MEREKA DAPAT PAJAK, MEREKA DAPAT NERACA PERDAGANGAN. BARU ADA BENCANA SEDIKIT SAJA SUDAH GOPOH-GOPOH KAYAK APA AJA. JANGAN KIRIM LAGI KE SANA. INDONESIA BERDAULAT JANGAN DIATUR-ATUR!”*
*APA YANG DILARANG BAHLIL? BONGKAR MODUS LAMA “NEGARA STEMPEL”!*
Selama puluhan tahun, Komandan, SDA kita yang melimpah – batubara, nikel, gas alam cair (LNG) – sebelum sampai ke pembeli asli di China, Jepang, Korea, ternyata *MAMPIR DULU KE NEGARA TETANGGA!*
Di sana, cuma *GANTI STEMPEL & DOKUMEN!* Tiba-tiba di catatan dunia, barang itu jadi ekspor dari negara tetangga tersebut, bukan dari Indonesia!
Akibatnya?
- *PAJAKNYA* negara tetangga yang dapat!
- *NERACA PERDAGANGAN BAGUSNYA* negara tetangga yang dapat!
- *NAMA BAIKNYA* negara tetangga yang dapat!
– Indonesia? Cuma dapat sisa!
*BAHLIL: LANGSUNG SAJA! KENAPA HARUS PAKAI NEGARA LAIN!*
Mulai sekarang, Bahlil perintahkan Dirjen Minerba, Dirjen Migas, semua jajaran ESDM:
- *EKSPOR TAMBANG* – Wajib langsung dari pelabuhan Indonesia ke China, tanpa transit!
- *EKSPOR LNG* – Yang selama ini 148 kargo ke Singapura, lalu dijual lagi, sekarang harus langsung ke Jepang & Korea! Bahlil sudah buktikan dengan *PANGKAS GAS PIPA KE SINGAPURA SEBESAR 31 MMSCFD* dari total 409,5 MMSCFD!
- *EKSPOR LISTRIK* – Rencana ekspor 3,4 GW listrik bersih ke Singapura di *TUNDA!* “Kita masih butuh listrik untuk rakyat kita!”
*BUKTI BAHLIL TIDAK MAIN-MAIN: PANGKAS PRODUKSI NIKEL DUNIA!*
Di forum yang sama, Bahlil umumkan langkah berani lain: *PANGKAS RKAB NIKEL 2027!*
Kenapa? Karena dunia lagi kebanjiran nikel 800.000 ton! Harga jatuh dari US$24.000 jadi US$15.400 per ton!
“Kalau oversupply terus, yang rugi kita! Indonesia itu supply 65% nikel dunia! Kita harus atur pasar, jangan pasar yang atur kita! Kayak batubara dulu, kita atur, harganya naik ke US$154, semua pengusaha senyum!”
Ini pelajaran yang sama saat kasus *PT Toba Pulp Lestari (TPL)* yang viral di Kementerian Hukum Hong Kong! TPL jual pulp via *DP Macau Marketing* di Macau, diduga biar pajak murah! Modus negara stempel juga!
*KOMENTAR NETIZEN & PENGUSAHA: “AKHIRNYA ADA MENTERI BERANI!”*
Di TikTok, potongan video Bahlil “Dari mana barang kau?” sudah ditonton 12 Juta kali!
- @TambangBalikpapan: “Ini baru Menteri! Selama ini kita nambang di Balikpapan, tapi di ekspor Singapura yang kaya!”
- @AnakRantauHongKong: “Bangga jadi orang Indonesia! SDA kita untuk kita!”
- Ketua Umum Perhapi: “Kami dukung penuh, kedaulatan SDA adalah harga mati!”
*PKRI CYBER MEDIA MENDUKUNG PENUH!*
Langkah Bahlil ini sejalan dengan semangat *Pasal 33 UUD 1945 – Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat!*
Bukan untuk kemakmuran negara stempel!
*PKRI CYBER MEDIA – MENGAWAL KEDAULATAN, MELAWAN MAFIA SDA!*
*#BahlilBerdaulat #IndonesiaBerdaulat #StopNegaraStempel #MinerbaConvex2026 #PKRICyberMedia*
Pewarta/R. Widiasari

