PWI-I. CYBER-PKRI. Wacana pembubaran partai politik kembali mencuat. Kali ini Pengamat Nusantara sekaligus Ketua Umum Laskar Palapa, Apandi Tondowatu, ikut angkat suara dan menyatakan bahwa terlihat saat ini keberadaan partai politik dalam praktik politik nasional perlu dievaluasi secara mendasar karena dinilai telah menjadi salah satu sumber persoalan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Khusus didalam pengalaman PANCASILA.
Kembali Kepada Nilai-Nilai Luhur Pancasila dan Jati Diri Bangsa, Srruab Ini adalah ajakan buat kita balik lagi ke pondasi bangsa. Di tengah arus globalisasi, media sosial, dan krisis identitas, kita diajak nginget lagi siapa kita sebagai bangsa Indonesia. Ungkap Apandi.
Apa Itu “Nilai-nilai Luhur Pancasila. Mari kita sedikit kembali menuangkan arti Pancasila. Didada Burung Garuda terdapat Tameng yang berisikan bukan cuma hafalan 5 sila. Isinya nilai yang harus dihidup kita sehari hari:
Sila Nilai Luhur Inti Contoh di Kehidupan setiap insan dan disetiap prilaku kehidupan kita sehari. Yang harus diamalkan oleh Pemimpin Partai Politik sebab terlampir dalam pernyataan kewajiban dan paham yang dianut oleh Setiap Partai Politik yakin Pancasila, UUD 1945 GBHN dan Wajib Bela Negara dengan mengutamakan Kepentingan Bangsa.
Terdapat kata Ketuhanan YME, yang artinya makna Toleransi, gotong royong antar umat beragama “Hormati ibadah tetangga yang berbeda agama’
Kemanusiaan yang Adil dan beradab, adalah tenggang rasa, tolong menolong Bantu korban bencana tanpa lihat suku dan wilayah tempat mereka.
Persatuan dan kesatuan, juga bagian dari makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika, mintabkita untuk cinta tanah air dan Bangga pakai produk lokal, serta ingat jangan lupa peran penting jaga persatuan.
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijakan dan Permusyawaratan, Adalah sebuah bentuk dari komitmen demokrasi, menghargai pendapat, Rembuk warga, voting dan pembekalan awal Seperti : OSIS yang fair. Juga kerjasama di lingkungan kita.
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia adalah Pamor bangsa yang memiliki serta menjunjung tinggi peran Gotong royong, perbuatan adil, peduli sesama, Berbagi bantuan merata, tidak mengedepankan korupsi untuk keuntungan pribadi.
Menurut Apandi, perebutan kekuasaan di antara elite politik dan kepentingan kelompok berpotensi memperlebar perpecahan di tengah masyarakat apabila kepentingan pribadi dan golongan lebih diutamakan dibandingkan kepentingan bangsa dan negara.
Dalam pernyataan nya Apandi menyatakan bahwa Akar masalah perpecahan anak bangsa bukan karena pernyataan partai politik yang mengambang. Saat ini Perebutan kekuasaan oleh para elite partai untuk kepentingan pribadi dan golongan telah menghalalkan berbagai cara,” ujarnya.
Apa Itu “Jati Diri Bangsa Jati diri = karakter atau ciri khas bangsa Indonesia. Cirinya: bangsa yang suka kehidupan Gotong Royong. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing Kekeluargaan “Semua saudara”. Musyawarah mufakat, bukan menang-menangan. Religius & Berbudaya Ramah, sopan santun, menghargai adat istiadat seluruh sukubdan budaya kita. Cinta Damai tapi Tegas : Tidak suka sifat penjajah, tapi siap bela tanah air dan yang terakhir Mandiri Bangga dengan karya anak bangsa.
Namun, menurut Apandi, persoalan tersebut tidak cukup hanya diselesaikan melalui pergantian elite atau perubahan kebijakan. Ia mendorong adanya pemikiran yang lebih fundamental mengenai sistem politik Indonesia, termasuk gagasan pembubaran partai politik yang telah keluar dari koridor Direktorat Jenderal Partai Politik dan Sosial. “Oleh karena itu, sehingga pembubaran partai politik menjadi sebuah keharusan demi terciptanya cita-cita Proklamasi bangsa Indonesia, yang menyatakan dengan kembali berpijak kepada nilai-nilai luhur, adat istiadat, serta ajaran keperrcayaan didalam Alquran, Pasti akan diyakni berjalan sesuai nilai-nilai Pancasila secara murni dan konsekuen,” tegasnya.
Kenapa Harus kita nyatakan Kembali “karena Permasalahan dan kemelut bangsa saat ini terjadi oleh karena Partai yang lebih mengedepankan Sistem Politik nya masing-masing tanpa mengerti bahwa politik yang di arahkan akan bagaimana akibatnya terjadi kepada masyarakat dan penelitian masyarakat membentuk karakter masyarakat yang individualisme, menjadi Bangsa yang acuh tak acuh. Masa bodoh bahkan melakukan sistematis politik mereka masing-masing sehingga menghilangkan dan lenyaplah semangat bangsa yang merdeka dan berdaulat serta cinta sesama serta selalu ingin hidup berdampingan dan bergotong royong.
Karena sekarang kita hadapi: Individualisme “Urus diri sendiri aja” Cerita Hoax & Perpecahan*: Gampang diadu domba di medsos tanpa ada rasa ragu dan tidak perduli.
Krisis Keteladanan : Korupsi, tidak disiplin dan Budaya Asing yang Masuk dengan mudah mengoyak bingkai bhineka tunggal dan dasar negara serta lambang negara : Lupa bahasa, adat, dan mencintai produk sendiri
“Kembali” artinya bukan menolak modern, tapi pakai modern dengan filter Pancasila.
Apandi menilai bangsa Indonesia memiliki kekayaan nilai budaya, adat istiadat, serta kehidupan religius yang seharusnya menjadi landasan dalam membangun tata kehidupan berbangsa. Menurut dia, politik tidak semestinya hanya dimaknai sebagai perebutan kekuasaan, melainkan sebagai sarana mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat. Ia berharap gagasan tersebut dapat menjadi bahan diskusi publik dan membuka ruang evaluasi terhadap perjalanan demokrasi Indonesia. Baginya,
cita-cita Proklamasi harus ditempatkan sebagai tujuan utama di lini terdepan, sementara kepentingan kelompok maupun elite politik tidak boleh mengalahkan kepentingan bangsa. “Kita harus kembali kepada jati diri bangsa, menjunjung nilai luhur Pancasila, adat istiadat dan ajaran agama sebagai pedoman dalam kehidupan bernegara,” pungkas Apandi.
Cara Mengamalkan Di Kehidupan Sehari-hari Di Keluarga diharapkan terwujud didalam setiap keluarga : Ajarkan anak sopan santun, doa bersama, ringan tangan untuk tolong orang yang lebih tua, agar dapat kita semua melihat lagi di dalam kehidupan disekitar kita.
Di Sekolah/Kantor : saat Musyawarah, tidak membully, jujur, disiplin sudah bukan yang kita letakkan di dalam jiwa kita, namun telah terkunci dengan kebiasaan berpolitik untuk menjatuhkan.
Kesimpulan “Kembali Kepada Nilai-Nilai Luhur Pancasila dan Jati Diri Bangsa” = Jadilah orang Indonesia yang modern, tapi tetap berakar. budaya adat istiadat dan kebiasaan leluhur. Kita. Harapan Apandi menutup perbincangan saat itu.
Pewarta/Tua.
