CYBER PKRI – BOGOR. Alhasil permohonan penanggulangan Rawat inap di gagalkan dengan alasan pihak pimpinan menolak permohonan pihak kuasa hukum dan orang tua dari salah satu penghuni rumah rehabilitasi Yayasan Benicia Indonesia dengan nama Christian alias engkis.
Permohonan yang diajukan terlebih dahulu di mohon kan sejak bulan pertama masa rehab, kemudian kedua kalinya pihak Direktur PBHN beserta ibu orang dari Christian berkunjung langsung untuk bermohon dan mendapatkan jawab baik namun berselang kemudian muncul jawaban WhatsApp yang isinya adalah menyatakan bahwa pihak management menolak permintaan untuk permohonan si ibu.
Dari keterangan yang disampaikan saat itu bahwa pihak PBHN yang juga ketua umum MB PKRI CADSENA Totop Troitua ST MH saat kedatangan nya kedua kalinya menyampaikan bahwa keinginan untuk rawat jalan adalah juga merupakan bagian dari kesehatan si anak yang harus melakukan operasi tulang untuk cabut pen pada bagian kaki.
Ada apa dengan kebijakan management Yayasan Benicia Indonesia sehingga menjawab dengan kalimat “Sabar bu pihak management menolak permohonan dan permintaan dan mengatakan bahwa sabar saja hingga tiga bulan. Christian sudah jalan dua bulan lebih toh sebentar lagi selesai rehabilitasi nya” Isi pesan WhatsApp kepada ibu Christian.
Yang anehnya jika sisanya beberapa minggu saja mengapa menyulitkan orang tua untuk dapat mendaftarkan si anak agar di lakukan atau ikut proses pencabutan pen atau operasi kaki. Bukan lah selisih hanya beberapa minggu dan bukan kah jaminan orang tua cukup sebagai suara administrasi laporan permohonan rawat inap untuk operasi kaki.
Totop Troitua berniat untuk langsung bermohon ke Badan Narkotika Nasional dan memohon pihak BNN yang langsung memohon kepada pihak Yayasan Benicia Indonesia untuk kelancaran jadwal operasi kaki salah satu warna binaan rehabilitasi.
Pewarta/Deroi.

