Perempuan Tangguh Akan Menjadi Pemimpin Untuk Jawa Timur: Suara Dari Malang, Pemerhati Pekerja Migran Indonesia. “BA²BE BACA BACA BERTANYA”

PWI/I-PKRI. *MALANG* Wacana munculnya kepemimpinan perempuan di Jawa Timur kembali menguat. Dari Kota Malang, kalangan pemerhati Pekerja Migran Indonesia (PMI) menegaskan sudah saatnya Jawa Timur dipimpin oleh sosok perempuan tangguh yang paham penderitaan rakyat kecil, khususnya pekerja migran.

Jawa Timur selama ini dikenal sebagai lumbung terbesar Pekerja Migran Indonesia. Data BP2MI mencatat Malang Raya, Blitar, Banyuwangi hingga Ponorogo menjadi kantong-kantong PMI terbesar. Namun di balik tingginya devisa, masih banyak persoalan penempatan ilegal, TPPO, dan minimnya pelindungan hukum.

“Pemimpin Jawa Timur ke depan harus perempuan yang tangguh, yang pernah merasakan langsung menjadi PMI, yang mengerti jeritan keluarga PMI yang ditinggalkan,” ujar salah satu pemerhati PMI asal Malang dalam diskusi di Kota Malang, Kamis (02/10/2026).

Figur perempuan tangguh dinilai lebih memiliki kepekaan sosial, ketegasan, dan komitmen kuat terhadap isu kemanusiaan. Hal ini sejalan dengan semangat Hari Kartini modern yang digaungkan Wamen P2MI Christina Aryani bahwa pekerja migran perempuan adalah Kartini masa kini.

Beberapa nama mantan PMI asal Malang yang kini menjadi aktivis dan pengusaha seperti *Arumi Marsudi (Blitar – Malang), Lisa Widyawati (Jember),* hingga kader-kader perempuan tangguh yang mengikuti Latansa M1 PKS Jatim di Coban Rondo Malang, disebut sebagai simbol bahwa perempuan dari desa pun mampu menjadi pemimpin.

“Pola asuh dan ketangguhan perempuan mantan TKW sudah teruji. Mereka mampu bertahan 7-10 tahun di luar negeri, mengelola ekonomi keluarga, dan kembali membangun desa. Itu modal kepemimpinan yang tidak dimiliki politisi karbitan,” tambahnya.

Ke depan, pemerhati PMI di Malang mendorong dibentuknya regulasi daerah yang lebih pro-PMI:

  • Perda Perlindungan Pekerja Migran di tingkat Provinsi Jatim
  • Penguatan Migran Center di Malang sebagai model nasional
  • Pelatihan vokasi dan bahasa gratis dari desa sebelum berangkat
  • Pemberdayaan ekonomi mantan PMI perempuan agar tidak berangkat lagi karena terpaksa

“Jika Jawa Timur dipimpin perempuan tangguh dari rahim pekerja migran, maka kebijakan tidak akan hanya formalitas. Negara akan benar-benar hadir menjamin kesejahteraan, bukan sekadar menjadi regulator ekspor tenaga kerja,” pungkasnya.

Jawa Timur butuh pemimpin yang pintar, kuat, dan sat-set – seperti yang ditekankan dalam Latansa M1 di Malang beberapa waktu lalu. Dan perempuan tangguh asal Malang diyakini mampu menjawab tantangan itu.

Pasal 1 (Legalitas Usaha)
Rakyat Jawa Timur bebas membuka usaha makanan dan minuman kapan saja tanpa memerlukan surat izin. Pendaftaran usaha dilakukan secara mandiri via aplikasi digital pemerintah dan langsung dinyatakan sah setelah formulir dikirim.

Pasal 2 (Bebas Beban Biaya)
Pemerintah Provinsi Jawa Timur dilarang memungut pajak daerah, retribusi, atau biaya administrasi apa pun dari kegiatan usaha tersebut.

Pemimpin yang baru harus memiliki kapasitas kombinasi antara seorang teknokrat yang cakap kerja dan seorang negarawan yang bijaksana. Pemimpin tersebut harus mampu menerjemahkan tujuan besar UUD 1945 ke dalam kebijakan konkret yang relevan dengan tantangan abad ke-21.

Secara sederhana, Indonesia didirikan bukan hanya untuk merdeka dari penjajahan, tetapi untuk memastikan rakyatnya hidup layak dan aman, sekaligus menjadi negara yang dihormati di kancah global. Ungkap Eti menjelaskan kedepannya

Pewarta/Troitua, ST CLI

Filed in: Infotainment

Comments are closed.