EKSPEKTASI ADALAH GRATIS, REALITA PULAU BUAYA ITU MAHAL. PULAU BUAYA: DARI IDE BUWAS 2015 KE HALU 2026. “BA²BE BACA BACA BERTANYA”

PWI/I-PKRI CYBER. BABEL. *EKSPEKTASI ADALAH… PULAU BUAYA*

*Oleh: Redaksi POLSUSWASKIANA – PKRI CYBER*

Ekspektasi adalah ketika pemerintah bilang akan membangun pusat rehabilitasi narkoba di pulau kosong seluas 700 hektare.

Realita adalah pulau itu kosong karena bahkan manusia saja tidak berani tinggal di sana. Yang tinggal hanya buaya.

Jumat, 9 Oktober 2026 kemarin, Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra mengumumkan ide yang terdengar familiar. Pulau Buaya akan jadi Lapas

Narkoba. Napi akan dilatih TNI-Polri bertani, jadi nelayan, beternak buaya. Kulit buaya mahal untuk tas branded. Dagingnya untuk pakan babi.

Terdengar hebat di jumpa pers. Terdengar seperti solusi.

Tapi ekspektasi adalah gratis.

*Ekspektasi adalah 2015 terulang.*

Kita pernah dengar ini. Tahun 2015, Kepala BNN Komjen Budi Waseso alias Buwas bilang: “Kita buat lapas di pulau, dijaga buaya, piranha, harimau. Karena buaya tidak bisa disuap.”

Wacana itu mati. Buaya tetap di rawa, napi tetap di lapas overcapacity.

2026, wacana itu hidup lagi dengan baju baru: Rehabilitasi. Atas nama kemanusiaan. Korban narkoba tidak dipenjara, tapi direhabilitasi di pulau.

Pertanyaannya: siapa yang mau direhabilitasi di pulau yang untuk ke sananya saja harus sewa boat 30 menit, tanpa listrik, tanpa air tawar, tanpa rumah sakit, dan dengan tetangga buaya muara 4 meter?

*Ekspektasi adalah TNI menjaga napi.*

Realita adalah TNI kita sedang sibuk jaga perbatasan, jaga Papua, bangun batalyon baru. Sekarang disuruh jaga napi narkoba sambil ajari nanam kangkung di pulau buaya? Dalam skema Operasi Militer Selain Perang (OMSP)?

Lalu anggarannya dari mana? Yusril bilang akan masuk Revisi UU Narkotika dan akan dibentuk Badan Rehabilitasi Nasional baru. Artinya butuh 2-3 tahun lagi. Butuh gedung, butuh rekrutmen, butuh anggaran triliunan.

Sementara lapas kita hari ini sudah overcapacity 100%. Hari ini, bukan 2029.

*Ekspektasi adalah kulit buaya jadi tas branded.*

Realita adalah untuk budidaya buaya saja butuh izin BKSDA, butuh penangkar berizin, butuh dokter hewan. Tidak bisa asal tangkap buaya liar di Belitung Timur terus dikuliti. Itu satwa dilindungi.

Jadi, ekspektasi adalah ketika kita membayangkan napi yang tadinya nyabu, setelah 1 tahun di Pulau Buaya pulang jadi pengusaha tas kulit buaya dan petani sukses.

Realita adalah napi itu pulang trauma karena tiap malam dengar suara buaya berantem.

*Kami dari POLSUSWASKIANA – PKRI CYBER tidak anti ide baru.* Kami dukung rehabilitasi. Pengguna narkoba memang korban yang butuh sembuh, bukan dipenjara campur bandar. Ungkap Troitua CLI.

Tapi jangan jual ekspektasi seharga pulau 700 Ha, padahal yang kita butuh adalah puskesmas rehabilitasi di tiap kabupaten, balai rehab yang jalan, dan BNN yang kuat.

Jangan sampai “Pulau Buaya Jadi Lapas Narkoba” hanya jadi judul berita yang viral 2 hari, lalu hilang. Seperti janji-janji pulau-pulau lainnya.

Karena ekspektasi adalah harapan. Dan harapan tanpa kerja nyata, adalah bualan.

*Salam Pengawasan *POLSUSWASKIANA – PKRI CYBER DPC KAIMANA*_Politik Kriminal Khusus Pengawasan Kinerja Aparatur Negara_

Pewarta/Roni ST MH CEJ CBJ

Filed in: Ekonomi Bisnis

Comments are closed.