Kisah Si Mardan Kini Hidup Damai Dengan Kapalnya Di Dataran Caldara Toba Tepat Nya Kec Toba. “BA²BE BACA BACA BERITANYA”

POLSUSWASKIANA – TOBA. Si Boru Biding Laut (atau Nai Mangiring Laut) diyakini dalam mitologi Batak sebagai salah satu putri Guru Tatea Bulan, keturunan Raja Batak. Tokoh ini sering dikaitkan dengan legenda Nyi Roro Kidul, penguasa Pantai Selatan Jawa, yang dianggap sebagai perantau dari tanah Batak.

Ia adalah salah satu dari empat putri Guru Tatea Bulan, cucu dari generasi pertama Raja Batak. Asal-usul: Berasal dari silsilah Gagak Batak, diyakini berusia sekitar 750 tahun.

Nama lain: Dalam beberapa versi dikenal sebagai Nai Mangiring Laut atau Si Boru Biding Laut.

Dikisahkan ia menjadi penguasa laut (Nyi Roro Kidul) setelah mengembara.Akibat doa ibu yang sakit hati, kapal Mardan karam dan dirinya menjadi batu di sebuah pulau yang kemudian disebut Pulau Si Mardan.

Lokasi Nyata: Saat ini, Pulau Simardan merupakan nama sebuah kelurahan di Kecamatan Datuk Bandar Timur, Kota Tanjungbalai

Pulau Si Mardan adalah cerita rakyat populer dari Tanjungbalai, Sumatera Utara, yang mengisahkan anak durhaka bernama Mardan. Ia menjadi kaya raya namun menyangkal ibunya, menyebabkan kapal dan dirinya dikutuk menjadi pulau. Kisah ini mendidik tentang kejujuran dan kepatuhan, serta menjadi legenda asal-usul nama sebuah kelurahan di Tanjungbalai.

Kini kehidupan keturunan keluarga besar Raja Batak semakin terlihat Damai.

Penandaan Keberadaan kapal pada bagian puncak tepat di bagian Caldera Toba menjadi satu kesatuan perkokohhan Si Raja Batak.

Sebuah tempat di sebuah bukit yang berada atas Desa Sianjur Mulamula, dibangun sebuah bangunan untuk Guru Tatea Bulan dan anak-anaknya, sebuah bangunan dengan sejumlah patung sakral. tempat tersebut di namai sebagai Sopo Guru Tatea Bulan

Guru Tatea Bulan menikah dengan Si Boru Basoburning dan melahirkan lima anak, yakni Si Raja Biak-biak, Tuan Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja, dan Silau Raja

Poin Penting Legenda Pulau Si Mardan:

Asal-Usul :  Cerita rakyat turun-temurun dari kota Tanjungbalai, Sumatera Utara.

Akhir Cerita: Akibat doa ibu yang sakit hati, kapal Mardan karam dan dirinya menjadi batu di sebuah pulau yang kemudian disebut Pulau Si Mardan.

Nilai Moral: Mengajarkan untuk tidak durhaka kepada orang tua, patuh, dan tidak sombong setelah sukses.

Pewarta/Totop.

Filed in: Kultur Budaya

Comments are closed.