CYBER PKRI – NUSANTARA. Kombes Pol Seminar Sebayang, alumni Akademi Kepolisian (Akpol) 1994, resmi menjadi salah satu dari lima personel Polri penerima Hoegeng Awards 2025, penghargaan bergengsi yang diberikan kepada anggota kepolisian yang menunjukkan keteladanan, integritas, dan dedikasi tinggi dalam melayani masyarakat.
Hoegeng Awards merupakan penghargaan yang terinspirasi dari sosok almarhum Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso, figur legendaris Polri yang dikenal karena kejujuran, kesederhanaan, dan keberaniannya menegakkan hukum tanpa kompromi. Penghargaan ini diberikan kepada anggota Polri yang mampu menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam tugas dan kehidupan sehari-hari.
Kombes Pol Seminar Sebayang dikenal luas sebagai perwira polisi yang tegas dalam menolak segala bentuk gratifikasi dan pungutan liar (pungli). Selama bertugas di berbagai satuan, ia konsisten mengedepankan prinsip kejujuran, disiplin, dan pelayanan yang bersih kepada masyarakat.
Saat menjabat sebagai Kepala Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Sulawesi Tengah, Seminar Sebayang tidak hanya fokus pada pendidikan teknis kepolisian, tetapi juga menanamkan nilai-nilai integritas dan karakter kepada para calon anggota Polri. Di bawah kepemimpinannya, SPN Polda Sulteng menjadi salah satu pusat pembentukan Bhayangkara muda yang mengedepankan profesionalisme dan pendekatan humanis.
Reputasi Seminar Sebayang sebagai polisi berintegritas telah lama dikenal masyarakat. Salah seorang warga, Afri Yanto Noor, pengajar Pondok Pesantren Nurul Qolbi Al-Wadi Sukabumi, menilai Seminar sebagai sosok yang humanis, tegas, religius, serta peduli terhadap sesama.
Menurut Afri, selama mengenal Seminar, ia melihat sosok perwira yang sederhana dan tidak pernah menunjukkan gaya hidup mewah meskipun memiliki jabatan strategis di lingkungan Polri.
“Beliau sangat sederhana, apa adanya, mudah bergaul, dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat maupun anggota yang dipimpinnya,” ujar Afri.
Komitmen Seminar Sebayang terhadap pemberantasan korupsi dan pungli juga terlihat ketika menjabat sebagai Kasat Polisi Jalan Raya (PJR) Ditlantas Polda Sulawesi Tengah. Ia menggagas program Stop Gratifikasi dan Pungli dengan memasang spanduk serta stiker di sejumlah pos pelayanan yang berisi pesan tegas bahwa pemberi dan penerima suap sama-sama melanggar hukum.
Program tersebut terbukti efektif membangun budaya kerja yang bersih di lingkungan PJR. Anggota yang terbukti menerima gratifikasi atau pungli dikenakan sanksi tegas. Kebijakan itu mendapat dukungan dari personel maupun masyarakat yang selama ini mengeluhkan praktik pungutan liar di lapangan.
Iptu Niluh Erni Wartini, yang pernah bertugas bersama Seminar di Sat PJR Ditlantas Polda Sulteng, menyebut mantan pimpinannya sebagai role model dalam hal disiplin, integritas, dan kepemimpinan.
Selain dikenal tegas terhadap pelanggaran, Seminar juga dikenal sederhana dalam kehidupan pribadinya. Saat berpangkat AKBP dan menjabat Kasat PJR Ditlantas Polda Sulteng, ia memilih tinggal di rumah kos sederhana bersama istri dan ketiga anaknya.
Bagi Seminar Sebayang, kesederhanaan merupakan konsekuensi dari prinsip hidup yang dipegang teguh selama menjadi anggota Polri.
“Di mana pun saya bertugas, saya tidak bisa kaya. Karena yang bukan hak saya, saya tidak berani mengambilnya,” tegas pria kelahiran Kabupaten Karo, Sumatera Utara tersebut.
Dalam berbagai kesempatan mengajar calon perwira Polri, Seminar kerap mengingatkan pentingnya menjauhi kezaliman dan penyalahgunaan wewenang. Ia menanamkan pesan bahwa setiap anggota Polri harus menjaga amanah dan kepercayaan masyarakat.
Penghargaan Hoegeng Awards 2025 yang diterima Kombes Pol Seminar Sebayang menjadi bukti bahwa integritas, kesederhanaan, dan keberanian menolak praktik korupsi masih menjadi nilai utama yang dihargai di institusi Polri. Sosoknya dinilai mampu merepresentasikan semangat Jenderal Hoegeng Iman Santoso dalam membangun kepolisian yang bersih, profesional, dan dicintai masyarakat. (red/berbagai sumber)
#karo #batak #sumut #polisi #danautoba #sumut
