PKRI INFO – BITUNG. Cap Go Mei! Cap Go Mei adalah perayaan yang dirayakan oleh masyarakat Tionghoa pada hari ke-15 setelah Imlek, yang biasanya jatuh pada bulan Februari atau Maret. Perayaan ini menandai berakhirnya rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek dan memiliki makna penting dalam budaya Tionghoa.
Cap Go Meh Bitung 2026 menjadi sorotan Wali Kota Bitung Hengky Honandar dan Wakil Wali Kota Randito Maringka. Pada perayaan Cap Go Meh Walikota langsung memberikan isyarat tersendiri akan kebahagiaan yang diciptakan oleh masyarakat Bitung. Walikota turun langsung melepas pawai budaya di Klenteng Seng Bo Kiong, Selasa (3/3/2026).
Ketua Tim TP PKK Kota Bitung Ny. Ellen Honandar Sondak SE., Sekretaris TP PKK Ny. Jacinta Maribell Maringka Gumolong, serta Ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Bitung Ny. Nurjaya Theno Munarwin SE. juga tampak mendampingi rangkaian kegiatan.
Unsur Forkopimda, kepala OPD Pemkot Bitung, dan FKUB Kota Bitung turut hadir menyaksikan pawai Cap Go Meh Bitung. Kehadiran Forum Kerukunan Umat Beragama menjadi penegas bahwa toleransi di kota ini bukan sekadar wacana
Kehadiran lengkap unsur pimpinan daerah memperkuat pesan persatuan. Selain Hengky Honandar dan Randito Maringka, hadir Sekretaris Daerah Kota Bitung Ir. Ignatius Rudy Theno ST., MT., MAP.
*Sejarah Cap Go Mei:* Cap Go Mei memiliki sejarah yang panjang dan kaya, yang berasal dari Dinasti Han (206 SM – 220 M). Perayaan ini dirayakan untuk menghormati dewa-dewa dan leluhur. Masyarakat Tionghoa percaya bahwa pada hari Ke-15 setelah Imlek, dewa-dewa akan turun ke bumi untuk memeriksa keadaan umat manusia. Sebagai bentuk khusus dalam adat istiadat yang berlaku perayaan Cap Go Meh diwajibkan untuk memainkan semarak lampion disebut Festival lentera.
*Adat dan Tradisi Cap Go Mei:* Berikut beberapa adat dan tradisi yang biasa dilakukan saat Cap Go Mei:
- Festival Lentera*: Masyarakat Tionghoa membuat lentera-lentera yang indah dan menghiasnya dengan warna-warna cerah. Lentera-lentera ini kemudian dibawa ke kuil atau tempat-tempat umum untuk dihormati.
- Tarian Naga dan Barongsai*: Tarian naga dan barongsai adalah salah satu tradisi yang paling populer saat Cap Go Mei. Tarian ini dipercaya membawa keberuntungan dan mengusir roh jahat.
- Pesta Kembang Api*: Pesta kembang api adalah salah satu cara untuk mengusir nasib buruk dan menyambut keberuntungan.
- Makan Makanan Tradisional*: Masyarakat Tionghoa biasanya makan makanan tradisional seperti kue-kue manis, pangsit, dan makanan lainnya saat Cap Go Mei.
- Mengunjungi Kuil dan Leluhur*: Masyarakat Tionghoa biasanya mengunjungi kuil dan makam leluhur untuk berdoa dan menghormati leluhur mereka.
Dalam budaya Tionghoa, Cap Go Mei adalah hari yang sangat penting karena menandai berakhirnya perayaan Imlek dan memulai tahun baru dengan keberuntungan dan harapan baru.
Acara dibuka dengan doa lintas agama yang melibatkan tokoh-tokoh keagamaan setempat. Momen ini mempertegas bahwa perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Bitung menjadi ruang bersama bagi seluruh warga, tanpa memandang latar belakang agama maupun etnis.
Pelepasan pawai oleh Hengky Honandar dan Randito Maringka bukan sekadar seremoni. Keduanya berdiri di garis depan sebagai simbol komitmen pemerintah kota dalam menjaga kerukunan umat beragama.
Cap Go Meh Bitung 2026 juga menghadirkan atraksi para Tang Shin yang diarak keliling kota. Dentuman musik tradisional, warna-warni kostum, serta iring-iringan budaya menyedot perhatian masyarakat di sepanjang rute pawai.
Pewarta/Annerudin.

