PWI-I, CYBER PKRI. *JAKARTA* – Seniman Betawi Eky Pitung menerima penghargaan “Seniman Pelestari Budaya Betawi 2026” dari Pemprov DKI Jakarta. Penghargaan diserahkan di Gedung Kesenian Jakarta, Senin, 26 Agustus 2026.
Eky Pitung dinilai aktif melestarikan kesenian lenong, silat, dan pantun Betawi selama lebih dari 15 tahun. Melalui sanggar yang didirikannya di Jakarta Utara, Eky telah melatih lebih dari 300 anak muda.
“Saya dedikasikan penghargaan ini untuk guru-guru saya dan untuk anak-anak Betawi agar tidak malu dengan budayanya sendiri,” ujar Eky usai menerima penghargaan.
Kepala Dinas Kebudayaan DKI, Iwan Henry, mengatakan Eky Pitung menjadi salah satu figur penting dalam menjaga identitas Jakarta. “Karya Eky tidak hanya di panggung, tapi juga di sekolah dan komunitas,” katanya.
Selain pentas, Eky juga aktif di media sosial dengan konten edukasi budaya Betawi yang ditonton jutaan kali.
Pemprov DKI menargetkan ada 100 sanggar binaan baru hingga akhir 2026 untuk regenerasi seniman Betawi.
*Dari Jalanan ke Panggung: Kisah Eky Pitung Jaga Budaya Betawi Tetap Hidup* Dulu Eky Pitung manggung di hajatan kampung dengan bayaran nasi kotak. Kini namanya jadi rujukan anak muda Jakarta Utara yang ingin belajar lenong dan silat.
Nama “Pitung” sengaja ia pakai sebagai pengingat. “Biar inget, kita punya jagoan yang berani buat rakyat,” kata Eky, 38 tahun.
Setiap sore, rumah kontrakan 4×6 meter di Koja disulap jadi sanggar. Tikar digelar, gendang ditabuh. Anak-anak SD sampai SMA datang belajar gratis.
Tantangan terbesarnya? “Anak sekarang lebih kenal K-Pop daripada tanjidor,” keluhnya sambil tertawa.
Tapi Eky punya cara. Dia bikin konten TikTok: pantun nasehat + backsound DJ. Videonya viral. Dari situ banyak yang DM minta diajarin langsung.
“Budaya itu nggak harus kaku. Yang penting pesannya nyampe,” ujar Eky. Bagi Eky, melestarikan budaya bukan soal nostalgia. “Ini soal jati diri. Kalau kita lupa, siapa lagi?
BAMUS BETAWI adalah organisasi kemasyarakatan yang jadi wadah musyawarah, persatuan, dan perjuangan masyarakat Betawi di Jakarta dan sekitarnya.
Tujuannya melestarikan budaya, adat, bahasa, dan memperjuangkan hak-hak masyarakat Betawi.
*Poin Penting BAMUS BETAWI*
- *Berdiri*: 17 Oktober 1993 di Jakarta. Dideklarasikan oleh para tokoh, budayawan, dan sesepuh Betawi.
*Fungsi Utama*:
- *Wadah Musyawarah*: Tempat berkumpulnya ormas, sanggar, tokoh Betawi untuk ambil keputusan bersama
- *Pelestari Budaya*: Menghidupkan lenong, gambang kromong, pantun, silat Betawi, dll
- *Advokasi*: Menjadi jembatan antara masyarakat Betawi dengan Pemprov DKI & Pemerintah Pusat *Pendidikan*: Bikin sekolah, kursus bahasa Betawi, pelatihan UMKM *Struktur*: Dipimpin oleh Ketua Umum + Dewan Penasehat + Dewan Pimpinan Harian. Punya pengurus di tingkat Provinsi DKI, Kota, Kecamatan, sampai Kelurahan.
*Slogan/Asas*:
- “Satu Bahasa, Satu Adat, Satu Budaya” – mempersatukan Betawi yang beragam.
*Perbedaan dengan FBR, Forkabi, dll* BAMUS BETAWI lebih posisinya sebagai “payung besar” / badan koordinasi. Kalau FBR, Forkabi itu ormas pelaksana di lapangan.
Banyak ormas Betawi lain juga duduk di BAMUS sebagai anggota.
*Program yang sering dilakukan*:
- Parade Budaya Betawi
- Festival Bahasa Betawi
- Bantuan sosial untuk warga Betawi prasejahtera
- Pengawalan kebijakan Pemprov DKI terkait warga asli Jakarta
Singkatnya: *BAMUS BETAWI = Rumah besar + Parlemennya orang Betawi*
Pewarta/Deroi.
